The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

Jumat, 31 Januari 2014

Tips Agar Tampil Lebih Percaya Diri






Memiliki kepercayaan diri memang alangkah lebih baik dibanding kurang percaya diri. Dengan percaya diri, maka kita akan merasa lebih tenang menghadapi apapun sehingga lebih mudah untuk menguasai berbagai hal termasuk menghadapi permasalahan dengan tenang. Dengan percaya diri, orang mampu melihat hal hal yang postitif tanpa menjadikan kelemahannya sebagai penghalang untuk lebih sukses. Disinilah kita butuh tips agar lebih percaya diri.Tips-tips tersebut bertujuan untuk lebih bisa membuat kita mengerti bagaimana kita bisa mempunyai rasa percaya diri di dalam diri kita.

Lalu bagimana 
tips agar lebih percaya diri sehingga kita berani bergaul, berani tampil, mampu menyelesaikan masalah, memahami potensi dan kemampuan yang kita miliki untuk menjadi orang yang sukses? Berikut adalah beberapa tips agar tampil percaya diri yang mungkin bisa membangun rasa percaya diri teman teman sekalian.

Tips agar selalu tampil percaya diri

1.     Menghargai diri sendiri dan orang lain, karena setiap manusia punya kelebihannya sendiri sendiri
2.     Selalu berpikir positif terhadap apa yang ada pada diri kamu dan tanamkan keyakinan bahwa kamu lebih baik dari apa yang kamu pikirkan
3.     Selalu memberi afirmasi postif kepada diri kamu dengan demikian akan merangsang conscious mind (pikiran sadar) dan sub-conscious mind (pikiran bawah sadar) yang mampu meningkatkan keyakinan kamu dalam melakukan tindakan
4.     Cari dan temukan lingkungan yang dapat membantu percaya diri kamu berkembang dengan memperbanyak membaca buku-buku positif ataupun buku tentang motivasi dan bergaullah dengan orang-orang yang positif
5.     Tentukan arah dan tujuan hidup kamu dengan membuat goal-goal kecil yang akan mengantarkan kamu mencapai tujuan karena sebuah goal besar merupakan rangkaian dari goal-goal kecil yang kamu capai
6.     Jangan menunda untuk melakukan tindakan karena dengan tindakan akan membuat keyakinan semakin kuat
7.     Jangan takut dan sikapilah kegagalan dengan bijaksana karena tidak menjadi masalah seberapa sering kamu gagal yang penting seberapa sering kamu bangkit dari kegagalan


Itulah beberapa Tips Agar Tampil Lebih Percaya Diri sehingga semua hal yang menjadi penghalang menjadi lebih mudah untuk melewatinya. Salam sukses dan terima kasih atas kunjungannya. Dengan terpenuhinya semua hal yang kami tampilkan tadi, kami mengharapkan semua sifat kurang percaya diri menghilang sepenuhnya dan anda dapat beraktifitas dengan percaya diri yang tinggi. Semoga bermanfaat. 


Fajar Winarso
Sumber: bloganebo.blogspot.com 

Mengintip Kegiatan Imlek 2565 di Vihara Petak Sembilan

Puluhan ornamen lampion menghiasi Vihara Bodhi Dharma, Jakarta Barat pada Kamis (30/1)








Lilin-lilin berjejer sebagai elemen beribadah warga di Vihara






Salah seorang warga membakar dupa (hio) dalam proses ibadahnya







Memasuki Vihara, salah seorang warga sedang memanjatkan doa di depan dewa



Empat orang warga sedang beribadah, dua diantaranya memegag dupa


Selain hio, jin cua pun turut dibakar oleh seorang warga untuk persembahan kepada dewa



Di sisi lain vihara, seorang lansia sedang membuat aksara hanzi di atas plastik lilin



Tak hanya pesembahyang, ternyata warga kalangan menengah ke bawah pun turut memadati lingkungan Vihara untuk menunggu angpau. Ekspresi letih tergambar dari wajah beberapa warga karena sudah seharian menunggu di situ.





Sabtu, 21 Desember 2013

Menilik Keindahan Pulau Putri






























Jumat, 22 November 2013

STREET LEVITATION: SENI DIUTAMAKAN, MATERI BELAKANGAN




 



Sejak dulu, Kota Tua merupakan tempat wisata sejarah yang sering didatangi wisatawan. Mereka tidak hanya melakukan perjalanan sejarah, melainkan melakukan wisata kuliner yang ada di sentral Jakarta itu. Kini, lingkungan sekitar Kota Tua telah disulap menjadi kawasan seni dari berbagai macam jenis.

Pengunjung dimanjakan dengan atraksi unik di berbagai sudut jalan. Di depan Museum Fatahilah, pengunjung bisa menemui atraksi manusia api dan atraksi menghebohkan lainnya. Tak jarang orang berkerubung untuk mengabadikan foto atraksi unik itu. Bergeser sedikit ke arah kiri Museum Fatahilah, kerumunan semakin banyak. Ternyata ada sebuah atraksi melayang di atas tanah. Mereka menamakan dirinya sebagai Street Human Levitation.

Perhatian penonton langsung menuju ke arah orang yang sedang melakukan aksi uniknya itu. Ia tengah duduk tanpa alas sambil membaca koran. Beberapa menit kemudian, ia langsung berganti posisi dengan mengangkat kedua kakinya sambil melayang di atas tanah. Penonton langsung mendekat untuk mencari tahu.

Adalah Jim, orang yang sedang melakukan aksi tidak biasanya itu. Ia merupakan salah satu penggagas dari adanya Street Human Levitation.

Ternyata, Komunitas Street Human Levitation ini bermula dari the street art. Pada awalnya, ada street art yang bernama humanoid manusia patung yang biasanya ada di Kota Tua juga. Karena terkesan biasa, street human levitation hadir agar penonton bisa tertarik memerhatikan aksi mencenangkannya itu.

“Kita ingin menampilkan sedikit trick dari the street art agar orang lebih suka. Dari terbentuknya Street Human Levitation, munculah crowdeed dan euphoria,” ungkap Jim Akay (29) saat setelah melakukan aksi melayangnya itu.

Jim bersama kedua temannya menjadi penggagas dari ide adanya human levitation ini. Mereka juga yang sering membuat konsep trick untuk street art itu sendiri. Mereka konsisten dalam memberikan hiburan jalanan untuk pengunjung. “Daripada hiburan kurang positif, lebih baik hiburan unik yang bisa berdampak positif juga,” ungkap Jim.

Pertunjukan di panggung tentu berbeda dengan pertunjukkan jalanan. Teknik-teknik dalam pertunjukan yang ada di panggung masih bisa disiasati karena jarak penonton dan atraktor yang jauh. Lain hal dengan pertunjukan jalanan. Jarak antara penonton dan atraktornya bisa hanya dua meter. Karena street art melakukan pertunjukan di jalan, Jim dan kawan-kawan terus mencari celah lubang supaya penonton tetap tidak bisa memahami apa yang sedang mereka lakukan.

Jim sering membawa ide segar untuk komunitasnya ini. Setelah Street Human Levitation ini sudah menjamur di daerah Eropa maupun India, Jim dan teman-temannya membawa hal baru di Indonesia ini. Mereka mengkombain pakaian dengan kostum tokoh Indonesia dan segala hal yang berbau Indonesia.

Pertunjukkan yang tidak jarang menarik perhatian penonton ini baru dilakukan di lingkungan Kota Tua. Kota Tua dipilih menjadi tempat yang tepat sebagai lokasi untuk latihan, berkumpul, dan pertunjukkan. Setiap Jumat-Sabtu-Minggu, pengunjung Kota Tua akan dikejutkan dengan atraksi melayang di atas tanah oleh Street Human Levitation ini. Sampai sekarang, ada empat orang berbeda yang melakukan aksi melayang itu.

Saat melayang di tengah kerumunan, pengunjung tak jarang menemui karakter yang berbeda-beda. Kalau hari Sabtu pengunjung melihat Michael Jackson sedang melayang, hari Minggu pengunjung bisa melihat karakter yang lain lagi. “Kadang kami menggunakan pakaian casual, maupun pakaian kantor. Kalau meniru tokoh, kami sering ambil Michael Jackson dan Pangeran Diponegoro,” ungkapnya.

Ada yang unik dari komunitas ini. Meskipun aksinya kadangkala menyita waktu, Street Human Levitation lebih mengutamakan untuk terus menggali keunikan dari karyanya dibanding memikirkan materi. “Dalam street levitation ini, lebih baik terus gali hal baru dan unik dibanding konsentrasi dengan materi. Nanti uang juga datang sendiri,” katanya. Gelas aqua tempat pengunjung menaruh duit pun tak jarang terisi penuh. Menurut Jim, kalau ada ide yang beda, maka orang bakal datang dan mencarinya dengan sendiri.

Penghasilan dalam sehari tidak terlalu dikalkulasikan oleh Jim dan kawan-kawan. “Sebenarnya nominal habis untuk materi sendiri, seperti makan, beli rokok,  dan lain-lain,” akunya.

Selama membuat kehebohan dengan aksinya yang tidak biasa itu, Jim dan kawan-kawan turut senang
bisa menghibur. Ia juga turut senang bisa berbuat sesuatu untuk ikut turut meramaikan Kota Tua agar masyarakat senang mengunjungi distrik sejarah Kota Jakarta itu. Dari situ, ia bisa melatih mentalitas untuk berinteraksi dengan audience. “Saya juga bisa lebih tau tentang karakter audience dari berbagai segmen,” ungkapnya.

Namun, ia masih memiliki tantangan pribadi dalam setiap aksinya, yakni interaksi dari penonton dan mental. “Kadang, teman sendiri sampai tidak mengenali saya,” ungkap Jim. 

Untuk ke depan, Jim masih terus berusaha memikirkan ide yang tidak terbayangkan orang lain. Ia pun turut berharap agar pusat wisata kota Jakarta itu terus diramaikan oleh pengunjung. “Kalau saya berharap Kota Tua ini sendiri lebih banyak yang datang. Euphoria ada, liburan murah, dan tidak komersil juga,” tutupnya.


 
Deasy Amalia
Dok. SHL

Jumat, 18 Oktober 2013

GIVING PNJ, PERSEMBAHAN DARI MAHASISWA UNTUK KAMPUS TERCINTA





Tepat satu bulan yang lalu (26 September 2013), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sukses meluluskan 1.500 mahasiswa tahun 2013, bertempat di Balairung Universitas Indonesia. Namun, ada yang berbeda dengan pelaksanaan wisuda tahun ini. Kali ini, wisudawan/wati tidak hanya menjadikan wisuda sebagai ajang perayaan kelulusan, tetapi juga memberi wujud nyata kepedulian kepada kampus tercinta dalam program Giving PNJ.

Program Giving PNJ pertama kalinya digagas oleh Agus Budiyanto selaku ketua umum BEM PNJ periode 2012-2013. Awal mula terbentuknya program ini sendiri berasal dari kejenuhan penantian janji perbaikan fasilitas ibadah Masjid Darul Ilmi (Daim), masjid Politeknik Negeri Jakarta, yang sudah tidak layak. Menurut Budi, pihak kampus sendiri tidak dapat memberi kepastian kapan akan melakukan renovasi menyeluruh. Pemerintah pun tidak menyiapkan anggaran pembangunan atau perbaikan khusus fasilitas ibadah.  

“Sebenarnya kami bosan karena tidak ada perbaikan dari dulu. Saya berpikir untuk menggunakan momen wisuda sebagai ajang kepedulian yang kemudian kami namakan Giving PNJ. Sederhana aja. setidaknya minimal satu orang menyumbangkan sepuluh ribu pada praktiknya,” ujarnya.

Menurut Budi, dari jumlah wisudawan yang mencapai angka 1500 itu saja, bila dikalikan Rp10.000 sumbangan sudah bisa mencapai Rp15.000.000. “Sebagai bentuk realisasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pengabdian pada Masyarakat. Maka sangat dipertanyakan jika lulusan-lulusan PNJ tidak meninggalkan apa-apa bagi bagi kampusnya. Kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk kampus kita setelah 3-4 tahun kita keliah di PNJ?” tambahnya.   

Masjid yang berdiri dari hasil swadaya masyarakat ini memang jelas nampak kerusakannya. Bentuk bangunan yang terbuka membuat tempias air hujan masuk ke dalam masjid. Belum lagi genangan di sekitar masjid. Di tempat wudhu, baik pria dan wanita, air keran untuk besuci tidak mengalir cukup bahkan sering mati. Toilet pria pun sering mampet, begitu pula dengan toilet wanita sama memprihatinkannya. Dengan jumlah mahasiswa yang banyak, jama’ah sholat jumat di Masjid Daim pun sampai tumpah ruah hingga ke luar pagar masjid serta selasar jalan. Walau begitu keadaanya, Masjid Daim tetap menjadi primadona bagi umatnya.  

Ternyata, gagasan sang Domisioner ketua Badan Eksekutif Mahasiswa PNJ ini pun diterima baik oleh sesama wisudawan hingga civitas PNJ. Bahkan, para alumni pun turut memudahkan program Giving PNJ ini selama dalam proses kegiatan. Banyak beberapa alumni yang membatu secara khusus keberhasilan ini, seperti Adhi Indra mahasiswa Jurusan Teknik Grafika Penerbitan membebaskan seluruh biaya cetak buletin terkait Giving PNJ sebanyak seribu eksemplar serta amplop sumbangan. Tak hanya Adhi, Dewo dari mahasiswa Teknik Elektro turut membantu menyiapkan promosi di YouTube dengan membuat montion graphic. Kerja sama yang baik ini membuahkan hasil yang luar biasa.

Dengan bantuan sosial media untuk memperkenalkan Giving PNJ ini, sekejap respon baik diterima. Kemudian setelah perkenalan melalui sosial media, Budi pun turut mengadakan briefing dengan semua wisudawan untuk lebih menyukseskan program. Karena saat briefing tersebut tidak semua wisudawan yang hadir, maka pada gladi bersih wisuda publikasi lebih digencarkan, yaitu pemberian penjelasan tentang program Giving PNJ sendiri kepada seluruh wisudawan.

Dalam praktiknya, pelaksanaan pengumpulan dana terbilang sederhana. “Kami memberikan amplop untuk mereka isi dan diserahkan saat wisuda,” terang Budi.

Walau masih terkendala dalam pengumpulan amplop yang tertinggal, seluruh kegiatan acara pada wisuda kemarin berjalan lancer. terkumpul dana sekitar 12.500.000,- dalam sehari. Bagi peserta yang belum sempat menyerahkan sumbangan atau pihak lain yang ingin menyumbang, panitia pun masih menyediakan kotak Giving PNJ di gedung Direktorat PNJ.

Giving PNJ, sebuah persembahan dari mahasiswa kepada kampus tercinta agar fasilitas dapat terbenahi lebih baik. Sebuah niat mulia ini memang patut diacungkan jempol. Setelah kegiatan ini, Budi berharap agar Giving PNJ dapat menjadi sentilan bagi para petinggi kampus agar mau berbuat mandiri lebih dari mahasiswanya. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut terus-menerus. “Kita bisa bayangkan 5-10 tahun ke depan PNJ akan makin baik fasilitasnya. Bukan tidak mungkin semua fasilitas yang ada di kampus ini bisa kita perbaiki dengan tangan kita sendiri,” tutupnya.




 Teks: Bunga Padma Putri & Deasy Amalia
 Foro: Dok. Giving PNJ

Rabu, 11 September 2013

Dari Ngeblog ke Bisnis Fashion


Bermodal ketertarikan tinggi pada dunia fashion yang dituangkan melalui blog, para fashion blogger ini tidak hanya berhenti sebagai blogger. Namun, mereka mampu merambah bisnis fashion. Bagaimana ceritanya?

Usia memang tidak pernah jadi penghalang bagi Evita Nuh, 14, untuk berkarya. Sejak berusia 9 tahun pun Chacha - sapaan akrabnya- sudah aktif ngeblog soal bidang yang membuatnya paling tertarik, yaitu fashion. Sejak itu, Chacha seolah menjadi salah satu fashion blogger termuda di Indonesia yang memiliki banyak penggemar. Pada usia 12 tahun, majalah Marketeers memasukkan namanya dalam daftar 100 anak muda paling berpengaruh di Indonesia.

Sementara komunitas penulis fashion TongueChic.com juga menyebut Evita sebagai salah satu blogger fashion paling bersinar (Fashion Brights Under 16). Blog Chacha www.http://jellyjellybeans. blogspot.comditulis dalam bahasa Inggris.

"Blog pertama yang aku buka adalah blog soal fashion. Dari situ aku langsung ingin membuat fashion blog," tutur Chacha. Seorang fashion blogger tentu dituntut memiliki selera mode yang sangat baik (atau unik) dan selalu menjadi trendsetter.

Itulah Chacha, gadis yang gemar sekali melakukan eksperimen mix and match dengan berbagai pakaian maupun aksesori. Dalam kesehariannya, Chacha bisa sangat boyish dan sebaliknya, supergirlie. "Bergantung mood saja," ujar gadis yang mengidolakan sang nenek itu. Bagi Chacha, fashion adalah cerminan diri.

Fashion juga jadi suatu kebutuhan karena bukan sekadar pakaian, melainkan cara untuk mengekspresikan individualitas. "Fashion tak ubahnya kartu nama yang diberikan kepada seseorang untuk memberi tahu identitas diri. Hanya, lewat fashion kita tidak repot menyodorkan kartu," ujarnya.

Label Little Nuh lahir dengan kolaborasi antara Chacha dan kakak sepupunya yang lulus dari sekolah mode. Inspirasinya adalah kesulitan anak-anak seusia Chacha untuk bisa tampil fashionable. "Dulu aku buat Little Nuh karena selalu berpikir bahwa pakaian untuk anak seusiaku amat jarang. Kalau tidak terlalu kekanak-kanakan, pasti terlalu dewasa. Jadi, Little Nuh aku buat untuk mengisi ruang kosong tersebut," bebernya.

Lewat blognya pula Chacha bahkan mendapat email dari penulis film naskah dan cerita film 10 Things I Hate About You yang kebetulan membaca blog miliknya. ”Aku sangat suka film itu, bahkan sampai hafal dialognya," katanya.

Hal terbaik yang dia rasakan sebagai fashion blogger adalah mengenal banyak orang baru dan bertemu dengan orang-orang yang aku kagumi. "Hal yang paling menyenangkan, banyak orangtua yang menganggap aku sebagai role model untuk anak-anak mereka," tuturnya.

Menjadi seorang fashion blogger memang tidak memandang usia. Dari anak muda sampai orang blog pribadi. Seperti Diana Rikasari yang begitu cinta pada fashion, menulis, dan fotografi. Sejak 2007, gadis kelahiran 23 Desember 1984 ini merasa blog adalah media yang tepat untuk memfasilitasi tulisan dan foto-fotonya. "Playful"dan "colorful"adalah style yang menggambarkan keseharian Diana.
dewasa pun bisa mengekspresikan gaya mereka melalui

Dia mengaku tidak memiliki patokan orang tertentu dalam hal fashion. Semua bergantung mood dan hasil eksperimennya. Hobi ngeblog dan kecintaannya terhadap fashion membuat Diana memutuskan untuk terjun ke industri fashion. Dia pun menggarap dua merek sepatu sekaligus, yaitu UP (www.iwearUP.com) yang fokus pada sepatu wedges dan heels serta POP FLATS (www.popflats.co) khusus untuk flat shoes. Diana juga menggunakan blognya untuk mempromosikan kedua lini sepatunya itu. "Yang penting itu konsisten dan jujur," ungkap Diana saat diwawancara melalui surat elektronik.

"Aku itu ngeblog dari hati, jadinya enggak beban dan enggak pernah bosan. Malah rasanya ada yang kurang kalau aku enggak ngeblog dalam sehari. Intinya sih apa yang kita tulis juga harus jujur, agak personal, supaya tulisan dan blog kita juga punya karakter yang khas," katanya.

Menurut Diana, seorang fashion blogger dapat memberikan pengaruh besar pada dunia fashion. Mengapa? Sebab, fashion blogger adalah real people yang lebih relatable sehingga lebih relevan ketimbang model yang ada di majalah-majalah. Fashion blogger, lanjut Diana, juga cukup membantu dalam hal mempromosikan fashion Indonesia. Banyak hal yang didapat Diana menjadi fashion blogger. Salah satunya, diundang ke Paris Fashion Week.Dia sama sekali tidak menyangka bisa mendapat kesempatan langka itu.

Di sana dia bertemu dengan idolanya, editor fashion majalah Vogue Inggris Anna Wintour serta Anna Dello Russo, editor-at-large majalah Vogue Jepang. Sebagai fashion blogger, Diana mendapatkan banyak apresiasi dari orang lain. Bahkan, "personal style"-nya juga lebih dihargai publik. Diana juga tidak lagi merasa dianggap remeh dan dianggap sekadar "aneh" atau cari perhatian karena personal style Diana yang memang terbilang "unik". "Mendapat apresiasi itu sangat berharga lho rasanya," tambah Diana.

Diana dan Chacha sudah memiliki clothing line sendiri, sementara Clara Devi adalah fashion blogger muda yang juga sedang mengejar hal yang sama. Tahun depan, dia berencana merilis lini fashion yang menjadi ciri khasnya, klasik, preppy vintage, dan sedikit bercampur dengan grunge/mod culture.

"Passion saya adalah menulis dan fotografi vintage. Bedanya, saya lebih tertarik mengulas budaya masa lalu. Baik dari musik, desain, maupun fashion. Mungkin karena terbiasa menulis posting yang berisi foto personal saya di blog sehingga orang-orang mengasosiasikan saya dengan sebutan fashion blogger," ujar pemilik blog http://lucedale.co ini.

Kini, sudah lebih dari empat tahun Clara menekuni dunia blog. Dia bekerja sebagai junior creative planner di sebuah agensi Jepang dan sedang mengerjakan beberapa proyek yang berkaitan dengan advertising di Singapura dan Tokyo. Bagi Clara, blog adalah sebuah portofolio yang mendokumentasikan karya-karyanya dalam bentuk digital yang dapat meningkatkan nilai kredibilitasnya. Seorang fashion blogger pasti memiliki pandangan tersendiri terhadap semua perkembangan fashion yang sedang terjadi. Begitu pun dengan perkembangan fashion di Indonesia saat ini yang memang terlihat amat pesat.

Menurut Chacha, jumlah fashion blogger yang ada sekarang ini tak terhitung. Begitu juga jumlah label indie yang sangat banyak seiring dengan maraknya desainer-desainer muda. "Itu merupakan indikasi bahwa fashion Indonesia sudah jauh berkembang," ujar Chacha.

Dulu, dia melanjutkan, label luar selalu dianggap keren. Namun, sekarang justru sebaliknya. Banyak anak muda yang bangga dan memilih karya desainer lokal muda yang biasanya masih orisinal dan jauh dari kesan komersial. Diana pun berpikir sama. Dia berpendapat bahwa fashion di Indonesia saat ini sudah semakin seru dan bagus. Banyak juga pemain baru yang mulai terjun dalam bidang ini.

"Pelan-pelan DNA fashion di Indonesia jadi lebih kuat. Semoga hal tersebut bisa diiringi oleh kualitas yang juga membaik," harapnya.

Meski demikian, Diana mengakui bahwa masih ada gap antara daerah Jawa dan kota-kota besar lainnya. Clara menambahkan, bisnis di dunia fashion sangat menarik. Entah dalam hal clothing ataupun media. "Counter-culture selalu memberikan warna yang segar dan saya lebih cenderung melihat dengan adanya internet sekarang perkembangan bisnis fashion jadi sangat terbantu," ujarnya.