The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

Tampilkan postingan dengan label Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreatif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2015

PUISI: Merenggut Kebahagiaan


Pagi ini, aku duduk di sebuah stasiun kereta api, memandangi sekitar
Segerombolan manusia datang dari satu arah dengan tergesa-gesa
Tak ada senyum simpul di raut wajah mereka
Hanya ada ketakutan dalam hati

Apa yang membuat mereka takut?
Takut tertinggal transportasi massal?
Atau takut dimarahi sang penguasa saat melewati jam seharusnya?
Ya, mereka takut kedua-duanya

Bunyi kereta datang dari arah utara
Mereka berlarian masuk ke atas tempat ruang menunggu
Berbondong-bondong masuk ke dalam sebuah besi yang menamakan dirinya kereta
Aliran air menyucur deras dari kulit mereka, membasahi kerah kemeja berwarna putih

Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka
Melakukan rutinitas yang mereka tak suka
Mempertahankan hingga ribuan tahun
Seolah tak ada pintu dalam ruangan tertutup

Tak ada bahagia dalam hidup
Tak ada ceria dalam emosi
Tak ada senyum dalam wajah
Selalu hidup dalam tekanan

Aku merenung
Aku berfikir
Apakah kau mau menukar kebahagiaan dengan segenggam uang?
Hidup terlalu singkat untuk melakukan apa yang tak kau suka

 Oleh Abdurrahman Naufal

Kamis, 18 April 2013

Dear, Aniki


“Sy, kau tahu tidak? Kak Avin baru saja mengundangku makan malam di rumahnya!!! Menurutmu apa maksud dibalik itu?”

“Serius? Ah kau sangat beruntung, Di. Hmm, menurut artikel yang pernah aku baca, ada kemungkinan dia akan sangat serius sama kau! Mungkin saja dia ingin memperkenalkanmu ke kedua orang tuanya! Aiiih, itu berita yang sangat bagus. Kapan harinya?”

“Hmm, akhir pekan minggu ini, Sy. Aku masih tidak percaya atas ajakan Kak Avin tadi pagi…” kedua bola mata Dinari berbinar-binar. Ada raut kebahagiaan luar biasa terpancar dari sana. Aku turut bahagia. “Oh iya, lalu bagaimana hubunganmu dengan Kak Feji? Ada kemajuankah?”

Perlahan-lahan dapat dipastikan Dinari melihat perubahan raut wajahku.  “Ya, seperti biasanya,” jawabku seperlunya, mencoba tetap tersenyum walau mungkin terlihat sangat kecut.

“Kau yakin? Hey, Sy! Sudah berapa lama kita bersahabat? Aku mengenalmu. Cerita padaku kalau ada masalah…” Dinari menggeser posisi duduknya mendekat ke arahku.

“Entahlah, Di. Mungkin aku sudah sangat jenuh. Aku tidak mundur, tapi majupun juga tidak. Aku dan dia hanya diam di tempat…”

“Tanpa kepastian pula!” sahutnya memotong pembicaraanku. Aku menggigit bibir bawahku, sedikit lebih keras. Kupikir itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit di dalam dadaku. “Kau akan bertahan sampai kapan? Kalau dia tidak mau memulai, berarti kau yang harus memulai, Sy. Batu dan batu kalau sama-sama diam, jelas tidak akan ada yang maju kan?”

Aku tertegun. Berkali-kali Dinari menasihatiku dengan berbagai kalimat-kalimat yang justru hanya semakin membuat aku bimbang. ‘Ada hal lain, Di. Fakta lain yang baru saja terungkap. Aku ingin menceritakan ini padamu, tapi kau tampak sangat bahagia hari ini. Aku tidak ingin merusaknya,’ desisku dalam hati. “Aku nggak tahu, Di…” ucapku, menatap Dinari yang sedang menajamkan sorot matanya ke arahku.

“Entah kau ini bodoh atau nggak, Sy. Tapi satu yang pasti, kau adalah orang pertama yang aku kenal, yang bisa bertahan sama perasaanmu selama ini. Ya, aku akui kau cukup hebat. Tapi kau tetap saja bodoh kalau tidak mau bergerak maju!”

“Kau tidak bisa menjamin dia juga punya perasaan yang sama denganku kan, Di? Aku dan dia diikat perasaan sepihak, Di. Aku yang mengikatnya, aku yang terikat sama perasaanku sendiri, tapi perasaan dia bebas, bukan untukku, pasti…”

“Kau terlalu berpikiran negatif, Sy!”

“Aku rasa itu fakta…” aku menghela napas panjang. Sebentar memandang wajah Dinari kemudian menerawangkan pandanganku ke arah langit dan kembali menghela napas. Sekilas teringat jelas kata-kata yang aku tulis rapih di dalam buku catatan harianku tadi malam, tentang Kak Feji.



***

18 Maret 2001

Halo, fighter! Masih berjuang di hati yang sama? Apa masih akan tetap berjuang setelah tahu hal ini? Well, hari ini aku mendapat kabar yang tidak cukup baik. Ternyata aku bukan adik satu-satunya Ji. Baru saja dia cerita bahwa dia punya adik lain, di kota lain pula yang cukup jauh dari sini. Ya, dia pernah cerita sebelumnya kalau dia punya banyak adik. Tapi aku mencoba mengacuhkannya, berharap dia hanya bergurau belaka. Namun, hari ini smsanku dengannya dimadu dengan adik lainnya ahahaha kau kenapa, Sy? Kau hanya adiknya, kenapa menggunakan bahasa dimadu? Kau terlalu menyayanginya ya? Entah… sebelumnya dia juga cerita, tentang adik lainnya di masa lalu. Katanya mereka saling suka tapi entah bagaimana kelanjutannya. Dia tidak menceritakannya terperinci lebih jelas. Dari kejadian itu, aku menarik kesimpulan menakutkan. Ya, aku takut dia punya adik-adik lain lebih dari aku dan si adik yang hari ini dia ceritakan. Dan entah adik mana yang ada dihatinya. Entah adik mana yang bisa meluluhkan hatinya. Entah adik mana yang bisa membuatnya nyaman, seperti dia yang bisa membuatku amat sangat nyaman. Ya, nyaman dan tidak mau kehilangan. Aku tahu, aku bukan adik satu-satunya. Ada banyak kemungkinan dan apakah ini bisa memaksaku menyerah atas perasaanku yang dari awal aku sadari salah? Apa setelah ini aku trauma menjadi adik orang lain? Trauma untuk menempatkan perasaan, takut salah bertahan seperti saat ini?

***

Aku hempaskan peraduanku di senja yang entah mengapa begitu meronakan langit sore ini. Pikiranku bermain-main, menelaah tentang apa yang disebut takdir dan jodoh. Bila bisa sampai bertahan sejauh ini namun faktanya hati tidak terpaut, mungkin ini yang namanya takdir.

Menjadi sebuah hal saat apa yang kita harapkan ternyata menjadi harapan orang lain. Ah, sepenggal bait lagu cinta pertama dan terakhir milik sherina terbesit dalam penggalauanku.

Sebelumnya ku ikat hatiku
Hanya untuk aku seorang
Sekarang kau di sini hilang rasanya
Semua bimbang tangis kesepian

Aku ingat sebuah cerita masa lalu yang sebenarnya enggan aku hadirkan kembali. Tentang sebuah rasa dimana adanya peninggalan bekas yang begitu mendalam sehingga membuatku takut untuk kembali memulai hal yang sama. Tentang cinta, tentang kasih sayang, tentang pengkhianatan dan tentang luka. Aku hanya terlanjur terlalu berbagi, tanpa kejelasan. Namun ketika kejelasan status itu meminta, firasat memaksaku untuk mengacuhkannya. Peraduan antara keinginan dan kenyataan membuatku terhempas begitu jauh. Alhasil, kisah masa laluku menemui masa depannya dan aku terkesan menyakiti diriku sendiri. Dia hanya suka bermain-main dengan perasaan pasangannya.

Traumaku mengalir, menjalar menyusun kepribadian baru. Namun entah takdir Tuhan macam apa, perasaanku kembali diketuk oleh orang lain. Dia kakakku. Ya, kakak yang merupakan teman sebayaku. Tanpa kompromi, kenyamanan dengannya mengalir, menepikan traumaku karena kisah suram masa laluku. Sebulan, tiga bulan, setahun, satu tahun delapan bulan, hingga kini berusia dua tahun tujuh bulan kenyamanan bersamanya seperti menggunung. Aku meragu, namun perasaanku tampak begitu nyata. Dan aku kembali meragu, apakah seluruh nama dan bayangnya dalam thalamusku berujung menjadi solid di depan retinaku? Menjadi utuh? Menjadi tampak sangat jelas dan enggan aku buyarkan kembali karena aku belum siap dan entah akan menjadi siap seperti apa tanpa dia.

Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini
Aku tak mengerti
Akankah sama jadinya
Bila bukan kamu
Lalu senyummu menyadarkanku
Kau cinta pertama dan terakhirku

***

“Sy, kekuatanku runtuh…”

“Kau kenapa, Di?”

“Aku merasakan adanya ketidakcocokan antara aku dan Kak Avin setelah semakin sering aku berbincang dengannya.”

“Lalu undangan makan malam waktu itu? Jadi kan?”

“Ah, aku membatalkannya dengan alasan aku sibuk. Tidak, tidak, kau tahu kita sangat sibuk dengan tugas-tugas kita sebulan belakangan ini bukan? Dan, aku menjadikan itu sebagai alasannya. Aku rasa, undangan waktu itu tidak ada maksud terselubung seperti katamu. Faktanya, hatinya masih untuk mantan kekasihnya, Sy…”

Aku terdiam mendengar ucapan panjang lebar dari Dinari. ‘Entah, Di. Aku pun tidak pernah mengerti jalan pikiran laki-laki…’ ujarku dalam hati. “Lalu kau akan berbuat apa?” tanyaku datar.

“Mungkin aku akan menyerah, sebelum perasaan ini jatuh terlalu jauh…”

“Ya, kau benar. Mungkin aku juga akan menyerah, Di…”

“Hey, kau ada masalah apa lagi dengan Ji???” seru Dinari sambil membesarkan kedua matanya ke arahku yang hanya mampu menatapnya sendu.

***

Dinari masih terus memujiku hebat dapat bertahan dengan perasaan tanpa kejelasan sejauh ini. Ya, mungkin dampak traumatik akan masa lalu berhasil membuatku takut memulai. Aku telah mencoba dengan berkata jujur kepadanya. Namun satu hal yang aku pahami, jujur tidak sama dengan meminta, bukan? Kami tetap berbincang seperti biasa, entah bagaimana aku di matanya. Aku tidak pernah tahu dia memandangku dengan sudut pandang seperti apa.

Aku mengacuhkan pendapat Dinari. Dua tahun tujuh bulan hanya waktu yang sebentar jika sudut pandangnya berorientasi pada masa depan. Meski pada kenyataannya, waktu selama itu cukup banyak menimbun kenangan-kenangan yang sulit jika harus dihempaskan dan dikalahkan oleh takdir dan jodoh.

Kami tetap seperti biasa. Biasa seperti selama ini kami pernah kenal. Tidak ada kemajuan, tidak ada kemunduran pula. Dua hal tersebut menimbulkan rasa takutnya sendiri. Ya, aku takut untuk maju, takut belum cukup siap menerima kenyataan. Namun aku juga takut untuk mundur disaat kenyamanan bersamanya selama ini menimbulkan dampak yang luar biasa. Terlebih aku bukan orang yang bisa luwes cerita dan membuat lelucon dengan orang lain meski hubungan kami dekat. Ya, bersamanya aku bisa jadi diriku sendiri. Bersamanya aku bisa nyaman untuk saling berbagi.

Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
Karena senyummu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirku

Setetes air mata mengalir, menggoda untuk mengalir lebih banyak lagi diiringi lagu cinta pertama dan terakhir milik sherina yang sedang mengalun lewat playlist handphoneku. Mataku membusuk perlahan karena air mataku sendiri. Sorot mataku tajam menatap langit sore ini. Senja perlahan hadir, mengingatkanku pada senja liburanku saat itu. Ketika rindu meluluhlantakkan pertahananku. Aku masih tetap terduduk ditempat seolah menikmati keadaan ini. Kembali hatiku meragu, namun logikaku pun turut berputar seiring bergejolaknya gemuruh dalam hati ini.

Aku ingat senja di sudut pantai Yogyakarta saat itu. Namamu hadir, hembuskan sejuk dan hangat bersama ombak di pesisir. Pijakku di atas pasir putih melebur dalam rindu. Jarakmu dekatkanku pada langit memerah. Bersemu malu. Menatapku dengan relung hati merindu paling dalam. Buah tangan itu telah aku sisihkan. Untuk kamu yang selalu merona saat senja mulai menyapa. Hembus napasku untuk kesekian kalinya. Ada kamu di sana. Namun aku terlalu lemah. Kekuatan pijakanku membawaku untuk menimbun buah tangan untukmu. Biar senja yang tahu… Dan namamu akan selamanya jadi doa untukku. Semoga suatu saat kau menyadari, doa untukmu dan rindu untukmu yang mungkin sudah melebam saat itu.. Tertanda, adik tanpa ikatan darah pengakuanmu, pengakuan kita.

***



Dikirim Oleh: Chaisa Chairunnisa
Teknik Grafika Penerbitan, Desain Grafis 4B

Senin, 18 Maret 2013

Malangnya Nasib Anak Jalanan (CERPEN)

Kehidupan ini memang layak untuk dipertanyakan. Hidup ini begitu kejam. Masih banyak orang yang menderita karena kehidupan ini. Masih banyak orang yang belum benar-benar merdeka dari berbagai persoalan dalam hidupnya. Banyak yang harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Harus berjuang dijajah dalam kemiskinan yang semakin merajalela dan tak manusiawi.

Seorang anak sudah seharusnya mendapatkan pendidikan yang cukup. Tugas seorang anak adalah belajar menuntut ilmu, bukannya malah bekerja. Dia tak mendapatkan haknya sebagai seorang anak. Hal ini sama seperti yang dialami seorang anak laki-laki bernama Rio. Dia terpaksa harus bekerja untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari, sehingga dia tidak bisa bersekolah. Untuk makan sehari-hari saja sulit, bagaimana dia mau sekolah.

“Radit!” seru seorang anak laki-laki bernama Rio, memanggil temannya, sekaligus sudah seperti saudara baginya.

“Apaan sih, Rio?” tanya anak yang bernama Radit itu malas-malasan.

“Dapat berapa hari ini?” tanya Rio balik sambil mengusap keningnya yang berkeringat.

“Seperti biasanya, hanya beberapa lembar.”

“Dit, kamu pernah berpikir tidak sih? Kenapa ya hidup kita seperti ini! Aku ingin merasakan yang namanya sekolah, tapi itu hanya mimpi!”

“Inilah takdir hidup kita, tidak bisa protes! Kita hanya bisa terima dengan terpaksa!”

“Aku iri melihat anak-anak itu. Mereka sangat beruntung bisa sekolah dan hidup dengan layak. Tidak seperti kita!” ucap Rio sembari menunjuk serombongan anak sekolah seumurannya.

“Nggak usah mimpi tinggi-tinggi deh, nanti jatuhnya sakit sekali tahu!” ujar Radit tak mau mempedulikan perkataan Rio. Dia sibuk mengatur korang-koran yang dijualnya.

Rio sendiri tak begitu mendengar ucapan Radit. Matanya masih terfokus pada anak-anak sekolah yang sangat membuatnya iri.

Saat Rio masih memandangi anak-anak itu, salah satu dari anak sekolah itu tiba-tiba berjalan memisahkan diri dari temannya. Anak itu berjalan ke arah Rio dan Radit. Rio bingung melihat anak itu mendatanginya.

“Eh, lo!” seru anak itu dengan tinggi pada Rio.

Rio berdiri dari duduknya di samping Radit. Dia kaget anak itu bicara padanya. Radit juga tidak kalah kagetnya melihat anak itu.

“Ngapain lo ngeliatin gue terus? Naksir lo!” katanya lagi dengan sombongnya.

Dia pun memandangi Rio dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik. Rambut Rio yang kusut, rambutnya kumal, bajunya kotor, dan tubuhnya kurus sekali. Anak itu bergidik jijik melihat Rio.

“Siapa juga yang ngeliatin loe? Kepedean banget lo!” kata Rio kesal melihat kesombongan anak di hadapannya itu.

Anak itu memang seorang perempuan. Pakaian seragamnya sangat rapih dan bersih. Dia pun sangat cantik. Terlihat sekali dari sikap dan tingkahnya, kalau dia anak orang kaya.

“Jangan mentang-mentang anak orang kaya bisa seenaknya! Nggak usah sombong deh!” kata Radit dengan sinisnya.

“Kalian tuh, yang nggak pantas ada di sini! Dasar anak jalanan!”

“Hei! Jangan kabur!” teriak seseorang sambil mengejar pedagang asongan.

“Gawat! Ayo kabur, Yo!” Radit langsung menarik tangan Rio, bergegas pergi dari tempat itu sebelum tertangkap petugas.

“Pak, di sini ada anak jalanan nih! Mereka mau kabur!” teriak anak perempuan berseragam itu membuat Rio dan Radit kesal sekali, karena beberapa petugas mendatangi mereka sebelum sempat lari.

“Bisa diam nggak sih lo?” kata Radit kesal.

“Kalian jangan kabur!” kata salah satu petugas yang berhasil menangkap Rio dan Radit.

“Lepas! Lepaskan kami, kami bukan anak jalanan!” Radit berusaha melepaskan diri dari petugas tersebut.

“Jelas-jelas kalian anak jalanan, ayo ikut ke penampungan untuk ditangani!” Petugas itu langsung menarik kedua anak jalanan yang meronta-ronta melepaskan dirinya.

“Bawa saja sana Pak, biar tidak merusak pemandangan!” kata anak perempuan tadi dengan sinis dan sombongnya.

“Awas lo, dasar gadis sombong!” teriak Rio tak terima pada anak perempuan kaya yang sombong itu.

***

Kantor penampungan dan penanganan anak jalanan, pedagang asongan, pengemis, dan semacamnya. Saat itu penuh sesak karena petugas baru saja berpatroli menangkap mereka. Anak jalanan seperti mereka dianggap meresahkan lingkungan, karena sering berkeliaran di jalanan. Seharusnya anak-anak seusia mereka mendapat hak yang layak mereka dapatkan, yaitu sekolah. Akan tetapi, mereka malah bekerja dan berkeliaran di jalanan. Orang tua mereka membiarkan mereka bekerja bukannya sekolah. Bahkan ada orang tua yang memaksa menyuruh mereka bekerja. Memang banyak juga anak jalanan yang sudah tak punya orang tua. Mereka harus menghidupi diri mereka dengan usahanya sendiri. Itulah mengapa mereka harus berada di jalanan, harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Mungkin juga ini dikarenakan kehidupan mereka yang begitu miskin, mengharuskan anak-anak seperti mereka harus bekerja di jalanan. Itulah kejamnya dunia ini. Untuk anak jalanan yang masih mempunyai orang tua, mereka diperbolehkan pulang, dengan syarat orang tuanya datang mengambilnya. Karena memang anak itu masih menjadi kewajiban orang tuanya. Akan tetapi, bagi anak jalanan yang sudah tak mempunyai orang tua, mereka harus rela tinggal di penampungan anak jalanan itu yang sempit sekali.

Berbeda dengan pedagang asongan dan pengemis. Pedagang dihimbau untuk tidak berdagang disembarang tempat, karena memang sudah ada peraturannya. Mereka dilarang berjualan di jalanan, karena dapat menyebabkan kemacetan dan merusak lingkungan. Sedangkan pengemis disarankan petugas untuk tidak mengemis atau meminta-minta di jalanan lagi. Seharusnya mereka mencari pekerjaan yang layak daripada hanya meminta-minta saja.

“Dit, kenapa sih kita malah tertangkap! Kita nggak bakal bisa keluar dari sini!” bisik Rio pada Radit. Sudah dari tadi dia terlihat gelisah. Dia memang sangat tak suka berada di tempat itu. Tempat itu sangat sempit. Dia jauh lebih suka ada di jalanan daripada di tempat itu.

“Sabar deh, sebentar lagi bokap gue datang,” balas Radit dengan berbisik juga.

“Loe bisa keluar, tapi gue? Gue nggak akan bisa keluar!”

“Tenang saja, loe juga bisa keluar bareng gue kok.”

Rio masih belum bisa tenang. Dia takut kalau Radit bisa keluar, tapi dirinya tidak. Temannya itu masih sangat beruntung daripada dirinya, karena dia masih mempunyai seorang ayah. Sedangkan dirinya sudah tidak punya orang tua, keluarga pun tak punya. Selama ini dirinya tinggal bersama Radit dan ayahnya.

“Mana yang namanya Radit dan Rio? Kalian boleh pulang, karena orang tuanya sudah datang!” ujar seorang petugas.

“Kami Pak!” seru Radit senang, akhirnya bisa keluar juga dari tempat meyebalkan itu. “Ayo Rio!”

“Emangnya gue juga boleh keluar, Dit?” tanya Rio agak ragu.

“Loe dengar sendiri kan, ‘Radit dan Rio sudah boleh pulang’. Berarti loe juga ikut keluar.”

“Tapi….”

“Udahlah, nggak usah banyak mikir! Mau keluar dari tempat menyebalkan ini, nggak? Kalau nggak mau, ya nggak apa-apa!”

“Iya, iya pasti maulah!”

Rio dan Radit langsung keluar dari ruangan tempat penampungan anak jalanan yang tertangkap saat tadi ada operasi. Mereka sama sekali sudah tidak betah lama-lama di tempat sekecil itu. Padahal anak-anaknya banyak, tapi tempatnya malah sempit dan kecil.

“Alhamdulillah, Bapak datang cepat. Kita udah nggak tahan di tempat itu lama-lama!” ungkap Radit setelah bertemu dengan Ayahnya dan keluar dari kantor penampungan itu.

Ayah Radit langsung menjitak kepala Radit cukup keras, membuat Radit kesakitan memegang kepalanya.

“Bagaimana sih kalian? Kenapa bisa tertangkap? Biasanya kalian selalu lolos dari kejaran petugas! Dasar payah!”

“Aduh, tadi itu gara-gara ada anak orang kaya sombong, kita jadi tertangkap deh!” gerutu Radit mengingat anak perempuan sombong tadi.

Sedari tadi rio hanya diam, tak mengeluarkan suara sedikit pun. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Rio dan Radit bisa saling mengenal sejak 3 tahun yang lalu, saat usia mereka 9 tahun. Saat itu Radit tak sengaja melihat Rio sedang menangis sendirian di stasiun kereta. Radit mendatanginya dengan membawa karung berisi gelas-gelas bekas untuk dijualnya kembali. Entah karena apa Rio ditinggal orang tuanya. Radit tak tgea meninggalkannya sendirian. Radit pun membawanya pulang ke rumah. Ayah Radit juga ikut senang dengan kedatangan Rio. Ia menganggap Rio seperti anaknya sendiri. Radit pun begitu, dia telah menganggap Rio saudaranya sendiri.

“…Kenapa loe dan bokap loe begitu baik sama gue? Kenapa kalian mau menampung gue, padahal hidup kalian sendiri sudah susah! Apalagi ditambah gue, padahal gue bukan siapa-siapa kalian!”

“Kenapa bicara seperti itu sih, Yo?” Radit agak marah karena Rio berkata seperti itu. “Gue udah menganggap loe seperti saudara gue sendiri. Kita udah hidup susah bersama selama 3 tahun. Apa itu belum cukup menunjukkan kalau lo itu bagian dari keluarga gue? Apa lo masih menganggap gue dan Bapak orang asing buat lo?”

“Bukan begitu, Dit. Hanya saja gue merasa nggak enak. Gue selalu menyusahkan kalian. Apalagi saat tadi di penampungan anak jalanan. Bokap lo harus berbohong sama petugas, padahal gue bukan anak bokap lo. Gue bukannya membantu kalian, gue malah menyusahkan kalian. Gue….” Perkataan Rio dipotong oleh Ayah Radit.

“Kamu sama sekali tidak menyusahkan Bapak dan Radit. Bapak sudah menganggapmu sebagai anak sendiri, seperti Radit. Bapak malah senang karena tidak kesepian tinggal hanya berdua dengan Radit. Sejak kedatanganmu, rumah kardus ini jadi ramai. Apalagi dengan kecerewetan dan tingkahmu yang tidak bisa diam, membuat Bapak terhibur. Kalau Radit, mana bisa sepertimu,” ucap Ayah Radit sambil mengelus rambut Rio dengan lembut.

Memang di dunia ini banyak yang tak sesuai dengan harapan. Meskipun mereka hanya orang miskin, orang yang tak punya apa-apa, tapi mereka sudah cukup senang hidup di dunia ini. Walaupun mereka belum mengenal sebelumnya. Bagi mereka kehidupan ini sangat berarti hanya dengan ketulusan hati, walau mereka tak memiliki apa-apa.



Oleh: Delia Fitri Sarah (TGP/Penerbitan 4F)

Kamis, 17 Januari 2013

Persimpangan Jalan (cerpen)


Di malam sepi, aku sendiri, hanya ditemani secangkir kopi setengah dingin. Lagi-lagi aku buntu naluri imajinasiku lumpuh. Saat gelap tak lagi bercerita dan siang tak lagi menyapa, aku kehilangan.  Angin dingin mengiring hujan menemani kesendirian di balik jendela ini, Agustus telah lama berlalu. Ini Desember. Tapi sisa kenangan itu masih terselip begitu dekat. Namun, aku tak bisa menerjemahkanya dalam tulisan ini. Ruang kosong tempat aku mengetik semakin akrab dengan aroma kopi yang hampir dingin. Jika kau lihat seorang wanita diluar meneriaki dan memaki bulan dengan sebutan bedebah. Tersembul dari mulutnya kumpulan asap tebal dengan aroma minuman keras murahan yang di belinya di persimpangan jalan. Dia memuntahkan amarahnya pada bulan dan itu membuyarkan lamunan kerasku tentang dia.

Dia? Ya itu dia, berlalu begitu saja meninggalkan seberkas kehidupan nyata yang telah membusuk di relung hatiku. Bahkan tulisankupun terbengkalai. Dia telah menorehkan luka cukup tajam di semak perasaan ini. Hingga aku terpaku di jendela persimpangan ini. Aku menuliskannya dalam bentuk sebuah penantian. Seperti mimpi, indah namun tak bisa diraba.

“Apa lagi yang harus kulakukan, haruskah kugapai bintang agar menemukanmu?” keluhku lirih.
Kau pasti penasaran dia yang sering aku sebutkan dalam kisah ini? Dia cantik antara satu sampai sepuluh aku beri poin sembilan. Aku menolak mendeskripsikanya karena aku takut jika kau bertemu dengan dia kau akan menyukainya juga. Maaf ini bukan soal aku mau berbagi atau tidak, namun hanya saja dia telah bersarang dilubuk hatiku jauh sebelum kau membaca kisah ini. Sudahlah aku tidak mau membahas dia, terlalu pahit untuk kucicipi malam ini.

Imajinasiku kembali lumpuh, aku tak mampu menemukanya lagi. malam terlalu dingin untuk ku nikmati. Suara perempuan tadi tak terdengar lagi.

“Gila! bahkan bulan pun bersembunyi dibalik kelabu pekat malam.” Kulirik perempuan tadi, dia tertawa bahagia sambil menunjuk bulan yang telah sirna. Sesekali dia melemparkan beberapa batu ke atas langit yang dia tunjukan untuk bulan sambil meneriaki dengan makian yang sama.

“Pengecut, kenapa kau bersembunyi, kau takut? Aku hanya menantangmu dan kau sudah lari dibalik awan itu!” Dia terus mengumpat lalu duduk dan meminum minuman keras murahan itu.

“Hai kau!” Dia menunjukku.

“Iya kau yang sedang duduk di balik jendela itu!” Dia menghampiriku perlahan mendekat ke jendela. Aku tersentak sedikit kaget namun aku mencoba untuk tenang.

“Aku??” ucapku.

“Iya kau yang dari tadi mengawasiku!” Dia berkata sinis dibalik kelabut udara di persimpangan ini, samar-samar kutatap wajahnya yang begitu familiar. Matanya mengingatkanku pada seseorang sosok yang dari tadi ingin kukembalikan dalam imajinasiku.

“Hei, hei, aku bicara padamu? Mengapa kau diam saja! Ah, susah ngomong sama orang gila!” Dia pergi sambil jengkel tapi aku buru-buru menghentikanya.

“Tunggu!” Dia menoleh menunjuk  dirinya sendiri saat ku panggil dia menghampiriku lagi.

“Iya, mendekatlah aku seperti mengenalmu,” kataku, dia terheran dan mendekat .

Aroma parfum bercampur minuman keras itu, begitu kental dalam ingatanku. Tanpa sadar aku telah meraba wajahnya, bibir tipis lembut seperti yang kukenal. Dia tak bergeming hanya menatapku kasihan. Kini hanya kesunyian dalam gelap yang bicara.

“Kau telah lama kehilangan? Kehilangan kasih dari orang yang kau cintai yah?” ucap wanita itu ringan. Aku mengangguk pelan. Begitu terpesonanya aku, tanpa sadar mengucapkan sebuah nama, “Shabrina?”. Dia menatapku tak bergeming. “bagaimana bisa kau tahu namaku?”. “benar itu kau Shabrina?, kemana saja kau? Kau tahu aku sangat merindukanmu”.

“Shabrina siapa yang kau maksud? Banyak nama Shabrina di bumi ini,” perkataanya begitu tegas memecah keheningan malam di persimpangan sepi ini. 

“Shabrina yang dulu sangat ku cintai dan dia amat mencintai bulan,” kataku menjadi.

“Kau tidak lihat dari tadi aku memaki bulan , aku membenci bulan, karena seorang lelaki yang pergi meninggalkanku, sendiri bersama bulan, dia berjanji akan datang di padang bulan tapi ia tak kunjung datang, ah sudahlah mengapa aku bercerita padamu.”

“Aku datang malam itu Shabrina, aku..,.”

“Siapa kau bicara seperti itu, aku tidak mengenalmu laki-laki gila!” Dia menyela kalimat yang belum aku selesaikan.

“Aku, lelaki itu Shabrina. Anthony, kau ingat janji terakhir kita bertemu di Padang bulan Agustus itu.” Aku sedikit memberi penegasan pada kata-kata terakhir, tapi dia hanya tertawa dalam sepi.

Tiba-tiba dia termenung, minuman keras yang di pegangnya jatuh, tetes demi tetes air matanya mulai membasahi pipinya yang kemerahan.

“Kau jahat, kau tidak datang malam itu. Aku menunggumu cukup lama bahkan sangat lama tapi kau tidak datang sampai akhirnya bulan pun tenggelam kembali.” Makin deras tetesan air mata Shabrina, kini wajahnya tampak sedikit jelas diterpa rembulan.

“Bukankah kau yang menghianati janji kita? Malam itu aku melihatmu bersama seorang lelaki lain, kau tahu perasaanku saat itu Shabrina? Bahkan terlalu menyakitkan untuk ku ingat,” ucapku. Dari raut mukanya dia tampak heran tak mengerti apa yang aku ucapkan, dia kembali duduk di trotoar, dan aku tetap memandanginya dari balik jendela ini.

“Hahahaha, begitu murahnya aku Anthony di matamu? Siapa lelaki yang kau maksud? Cemburu telah membutakan hatimu!” jelas Shabrina
           
          Malam telah larut bahkan suara angin pun enggan menampakan dirinya. malam ini suasana malam makin kalut.

“Agustus malam itu ku pacu mobilku dengan perasaan bahagia karena aku sangat ingin bertemu denganmu Shabrina sambil membawa cincin yang aku beli dari hasil kerja kerasku, aku ingin melamarmu di saksikan oleh bulan dan para bintang, tapi kau telah mengotori semuanya dengan tindakan penghianatanmu. Malam itu kau bersama lelaki yang bahkan tak aku kenal, kau bisa bayangkan kan betapa sakitnya perasaanku saat melihat gadis pujaannya bersama lelaki lain?” jelasku padanya.

“Kau salah Anthony, aku bukan perempuan seperti itu. Kau salah paham, dia hanya teman lama yang tidak sengaja bertemu. Waktu itu aku terjatuh hak sepatuku tersangkut dan dia menangkapku,” dia berkata berurai air mata, tapi rasa sakit itu masih tetap bernaung di hatiku.

“Kau harus percaya padaku Anthony.” Dia ambruk, air matanya begitu tulus. Aku tidak kuat melihat dia menangis ragaku kaku sebagian tubuhku lemah, “berhenti menangis Shabrina” dalam hatiku menjerit.

“Aku mencintaimu Anthony, namun kau lebih mencintai cemburumu di banding aku dan membuatku seperti ini, aku membenci bulan karenamu,” dia bergaya layaknya seorang yang tegar. Namun, aku tahu dia terjebak dalam kerapuhan.

Aku gemetar bibirku tak sanggup mengatakan satu patah kata pun, tubuhku lemah melihat dia menangis aku semakin sulit bergerak

“Maafkan aku Shabrina, aku terlalu mencintaimu sehingga aku tak mau seorang laki-laki pun menyentuhmu, aku telah terluka oleh kecemburuanku sendiri dan aku sadar aku salah paham setelah kau menjelaskan. Kini aku mengerti, maafkan aku Shabrina”. Tak sanggup lagi aku menatap matanya yang indah itu.

Temaram bulan menerangi kedua sejoli yang sudah lama tidak dipertemukan, kesalahpahaman telah memisahkan jalinan kasih diantara keduanya, namun rasa cinta begitu besar. Sehingga cinta mempertemukan mereka dipersimpangan jalan ini. Kini hanya sebatas jendela yang memisahkan mereka, tidak membayangkan bertemu dalam keadaan seperti ini. Pelukan erat pun mewarnai kerinduan antara Shabrina dan Anthony malam ini.

 “Anthony, jangan lepaskan pelukanmu, aku tak mau malam ini berakhir, aku tak mau membenci bulan lagi”.

“Tak akan pernah lagi Shabrina, kini imajinasiku tidak lagi lumpuh,” ucapku dalam hati.


Kontributor 
Oleh:
Giovani Rahmathullah Rizal
AB-1B Administrasi Niaga

Kamis, 02 Februari 2012

Hanya Yang Maha Kuasa yang lebih mengetahui hari akhir.




Banyak isu bermunculan hingga saat ini. Isu-isu itu mendapat tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, bahkan tidak peduli. Salah satu isu tahun 2012 mendatang yang ditunggu kebenarannya yakni siklus banjir lima tahun di Jakarta dan kiamat.
Siklus banjir lima tahun menjadi agenda Pemda DKI Jakarta mengantisipasi banjir besar yang kebetulan terjadi tiap lima tahun sekali. Jakarta mengalami banjir besar pada tahun 2002, berlanjut tahun 2007. Tahun 2012 diperkirakan terulang kembali.
Jakarta terletak di dataran rendah yang terbilang cukup landai sehingga perlu tata kota yang baik. Hujan dengan intensitas tinggi disertai penumpukan sampah dan pendangkalan sungai menjadi penyebab banjir Jakarta. Jakarta mengalami banjir besar tiap lima tahun. Hal ini membuat banyak yang mempertanyakan kemungkinan banjir besar tahun 2012 di Jakarta.
Isu kiamat 2012 menambah kecemasan masyarakat ketika pertama kali disebarluaskan. Tidak sedikit situs-situs yang memuat ramalan yang berasal dari Suku Maya. Suku Maya dikenal memiliki kalender dengan perhitungan yang paling akurat. Kalender Maya hanya tercatat hingga tahun 2012 M (dimulai dari tahun 3113 SM). Penanggalan terakhir Suku Maya pada 21 Desember 2012 kemudian  dianggap sebagai hari akhir (kiamat).
Isu-isu tersebut sebaiknya tidak ditelan bulat-bulat. Manusia sebagai makhluk berpendidikan perlu menyikapi hal ini dengan baik. Banyak ilmuwan berkesimpulan siklus badai matahari merupakan kiamat yang dimaksud. Efek yang ditimbulkan tidak dapat dianggap sebagai kiamat besar. Manusia percaya Tuhan, dan akan menyerahkan urusan kiamat kepada Sang Pencipta. Hanya Yang Maha Kuasa yang lebih mengetahui hari akhir.
Siklus banjir lima tahun dapat dianggap sebagai referensi untuk mempersiapkan diri. Siklus ini seharusnya dijadikan pelajaran agar banjir besar tidak terulang. Lahan hijau di Jakarta sebaiknya makin diperluas. Akar pohon akan menambah kemampuan tanah menyerap air ketika musim hujan tiba. Sungai-sungai tidak sebaiknya dijadikan tempat sampah. Kesadaran tiap individu diperlukan demi menjaga lingkungan bersama yang Tuhan ciptakan bagi makhlukNya.

Nama : Nurul Aini
Jurusan/prodi: Teknik Grafika Penerbitan/ Prodi Penerbitan PNJ
Kelas: Penerbitan 1 A 
e-mail: nurulaini2405@gmail.com

Selasa, 01 November 2011

Baticube Sukses Modifikasi Batik Tradisional

  
 
DEPOK- Hai para pemuda-pemudi Indonesia, apa kabar dengan gaya berpakaian kalian? Pasti masih banyak yang bingung untuk memilih baju setiap kali mau berangkat kuliah, kan? Nah, kali ini GEMA mau berbagi info tentang sebuah produk lokal yang kental dengan unsur budaya timur. Kalau biasanya kita memakai baju batik model kemeja, ada yang beda dengan produk yang satu ini. Produk Baticube menjadikan batik lebih fleksibel dan santai karena memadukan antara t-shirt dan potongan kain batik menjadi salah satu pilihan fashion yang menarik.

 Awalnya, produk ini merupakan hasil karya lima orang mahasiswa Fasilkom UI, yang sedang menyelesaikan tugas akhir semester di akhir 2009. Baticube adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian batik modifikasi. Baticube merupakan bisnis yang memperkenalkan batik dalam bentuk yang inovatif. Batik yang biasanya merupakan pakaian untuk acara formal dan menjadi bagian penuh dari pakaian, kini dimodifikasi dan disajikan dalam bentuk kaos.
Untuk harga yang dibanderol juga nggak terlalu mahal, berkisar dari Rp45 ribu sampai Rp60 ribu per baju. Pas buat kantong mahasiswa kan? Nah, keunikan lain dari Baticube, yaitu hanya memproduksi barang per empat bulan, atau sesuai pesanan. Selain itu, kain batiknya pun langsung didapat dari pengrajin batik Jogjakarta. Warna yang tersedia juga beragam, mulai dari putih, hitam, hijau, coklat, merah, dan kuning. Baticube juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk bergaya sehari-hari  tanpa meninggalkan budaya Indonesia, loh! Jadi, cintai gayamu dan cintai negerimu.


Oleh: Allin Esa Widara










Rabu, 19 Oktober 2011

Buat Bingkai Scrapbook, yuk!

Bosan dengan bingkai foto yang biasa-biasa aja? Mulai sekarang, coba abadikan fotomu bersama keluarga, teman, atau pacar menjadi lebih manis dalam bingkai yang lebih unik,seperti bingkai scrapbook. Selain cara membuatnya yang mudah, bingkai scrapbook juga bisa menjadi bingkisan untuk orang yang kamu sayang, loh. Yuk, belajar buat bingkai scrapbook bareng tim redaksi GEMA!

Hal pertama yang harus kamu lakukan ialah menyiapkan berbagai alat dan bahan sebagai berikut:

  1. Foto
  2. Bingkai
  3. Gunting gerigi
  4. Double tape foam
  5. Gunting
  6. Stiker
  7. Lem
  8. Kancing warna-warni


Cara membuat:

1. Buat gambar yang nantinya akan dijadikan hiasan, sesuai kreasi.

2. Potong kertas bermotif dengan gunting gerigi untuk hiasan background.

3. Beri lem pada kertas yang akan dijadikan background

4. Tempelkan foto dengan menggunakan double tape foam di atas kertas background, kemudian tempelkan juga semua potongan gambar.

5. Masukkan scrapbook yang sudah selesai ke dalam bingkai.

6. Untuk variasi, kamu bisa menggunakan potongan gambar dari majalah sebagai hiasan.


Setelah tahap akhir selesai, hasil karyamu sudah bisa dipajang di private room kesayangan kamu. Selamat mencoba, ya!

Ditulis oleh: Lina, Div. Artistik

Sabtu, 15 Oktober 2011

Hadapi dengan Senyuman (cerpen)

Hadapi dengan Senyuman

Setiap orang pasti mempunyai cobaan dan masalah dalam hidupnya. Bahkan ada orang yang tak bisa menghadapi masalahnya karena begitu besar masalah yang dihadapinya. Seharusnya setiap orang bisa menghadapi segala cobaan dan masalah yang Tuhan berikan dengan sabar dan tabah, tetapi sering kali mengeluh dan merasa tak bahagia karena masalah dalam hidup ini. Tak pernah mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Merasa hidupnya itu menyedihkan dan tak bahagia.
Aku memandang awan gelap di atas sana, segelap hatiku saat ini. Aku termangu memandangnya dengan tatapan kosong. Masalah dalam hidupku datang bertubi-tubi seakan tak ada habisnya. Aku merasa hidup ini tak berarti dan tak bahagia. Aku tak kuat menjalaninya lagi. Sampai kapan aku seperti ini terus? Sampai kapan aku merasa tak bahagia seperti ini? Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan?
Aku berjalan gontai menelusuri trotoar di tepi jalan. Aku menatap sebuah taman yang berada tidak begitu jauh dari tempatku berdiri. Taman itu sepi. Tak ada seorang pun di sana. Aku melangkah menuju taman itu. Aku ingin menenangkan hati dan pikiran.
Aku salah. Ternyata di taman itu ada seseorang. Seorang laki-laki seusiaku yang duduk di atas kursi roda. Aku heran, mengapa dia berada di taman sepi ini sendirian? Apa dia sepertiku, merasa tak bahagia?
Tiba-tiba aku melihat laki-laki itu kesakitan. Dia memegangi dadanya terus. Aku juga dapat melihat, sebuah cairan berwarna merah keluar dari mulutnya. Dia terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah itu. Aku panik melihatnya. Aku harus menolongnya, karena di tempat ini tak ada siapa-siapa lagi.
"Hey, kamu kenapa?" tanyaku panik.
"To…long ba...wa a...ku ke...sana," katanya terbata-bata sambil menunjuk sebuah bangunan bertingkat yang tak jauh dari taman itu.
"Baiklah," aku segera mendorong kursi rodanya menuju bangunan yang ditunjuknya tadi. Itu adalah bangunan rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, suster langsung membawanya ke ruang UGD. Aku hanya bisa menunggu di depan ruang UGD. Aku takut dan cemas. Tapi kok aku takut dan cemas gini, ya? Padahal aku tak mengenalnya. Apa karena rasa kasihan saja? Atau...ada yang lain?
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang UGD. Aku segera mendatanginya.
"Bagaimana dia, Dok? Dia tidak apa-apa kan?" tanyaku cemas.
"Dia tidak apa-apa. Untung kamu membawanya tepat waktu. Kalau tidak, mungkin dia tidak bisa tertolong. Terima kasih ya, kamu telah menolongnya," ucap dokter itu sembari menghela nafas lega, karena pasiennya tidak apa-apa, "kamu menemukannya di taman kan?"
"Dari mana dokter tahu?" tanyaku sedikit bingung.
"Dia pasien di rumah sakit ini. Dia sering sekali pergi diam-diam ke taman itu. Entah apa yang dia lakukan. Dia hanya mau sendirian saja di sana."
"Memangnya dia sakit apa, Dok?" tanyaku penasaran.
"Dia mempunyai penyakit kanker hati stadium akhir."
Aku terkesiap mendengar perkataan dokter. Laki-laki itu mempunyai penyakit mematikan. Pasti ini berat sekali untuknya. Kalau aku yang mengalami itu, aku pasti tidak kuat menghadapinya.
***
Aku berdiri menatap laki-laki yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit itu. Wajahnya pucat sekali. Aku tak tega melihatnya.
"Terima kasih ya, tadi kamu telah menolongku," ucap laki-laki itu sembari tersenyum manis.
Aku terpaku melihatnya tersenyum. Seperti tak ada beban sedikit pun dalam dirinya. Dia masih bisa tersenyum, padahal dia tahu dia mempunyai penyakit mematikan.
"Kok diam, sih?" tanyanya membuyarkan lamunanku, "oh ya, kenalin namaku Adit. Namamu siapa?"
"...Namaku Zahra," jawabku setelah beberapa saat hanya diam.
"Semoga kita bisa berteman baik," ucap Adit sembari tersenyum lagi.
Aku masih menatapnya tak percaya. Aku benar-benar tak habis pikir dengannya. Berulang kali dia tersenyum dengan wajah bahagia. Apa dia bahagia dengan penyakitnya? Aku jadi penasaran, kenapa dia masih bisa tersenyum dan bahagia? Aku beranikan diri untuk bertanya kepadanya.
"Kenapa... kamu masih bisa tersenyum, padahal..." tanyaku agak ragu, tapi langsung dipotong olehnya.
"Padahal aku mempunyai penyakit mematikan. Itu kan, maksudmu?" potong Adit. Kemudian dia menghela nafasnya, "memangnya kenapa kalau kita tersenyum? Tidak ada salahnya, kan? Malah dengan tersenyum bisa menutupi kesedihan kita."
"Maksudmu?" Aku masih tak mengerti dengan perkataannya.
"Dengan tersenyum dapat menutupi kesedihan kita. Meski sesedih atau sesulit apa pun masalah yang dihadapi. Ya, kita anggap saja masalah yang dihadapi itu merupakan kebahagiaan. Jangan menganggapnya sebagai penderitaan. Kalau menganggapnya sebagai penderitaan, kita hanya akan merasa menderita. Merasa tak bahagia dan tak bersyukur. Dari pada seperti itu, lebih baik kita menganggapnya sebagai kebahagiaan untuk diri kita saja, kita akan ikut merasa bahagia," ucapnya sembari tersenyum 'lagi'.
Aku diam mendengar perkataannya. Dia benar, dengan menganggap masalah itu sebagai kebahagiaan dapat membuat kita ikut merasa bahagia. Daripada hanya mengeluh saja. Seperti yang selama ini aku lakukan.
"Kamu bisa tersenyum karena menganggapnya sebagai kebahagiaan?" tanyaku lagi untuk meyakinkan diriku.
"Ya, benar. Kebahagiaan merupakan hal yang semua orang inginkan. Semua orang ingin bahagia. Tak ada satu pun yang tidak menginginkannya. Hanya saja berbeda-beda pemikiran tentang bahagia bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai kebahagiaan atas hidupnya yang menyenangkan, dan ada pula yang menganggap sebagai kebahagiaan atas hidupnya yang tak begitu menyenangkan, tapi dia tetap bisa merasa senang dan bahagia atas hidupnya."
Hatiku terenyuh. Selama ini aku memandang bahagia hanya dari satu sudut pandang, yaitu kebahagiaan atas hidup yang menyenangkan. Ternyata aku salah. Ada sudut pandang lain dari makna bahagia, yaitu tetap merasa bahagia meskipun hidup ini tak begitu menyenangkan. Selama ini aku malah selalu mengeluh dan merasa tak bahagia karena cobaan dan masalah yang datang bertubi-tubi dalam hidupku. Seharusnya aku bisa menghadapinya dengan tabah dan sabar. Seharusnya aku menganggapnya sebagai kebahagiaan dalam hidupku.
Kini aku sadar tentang makna bahagia yang sesungguhnya. Meski banyak cobaan dan masalah dalam hidup ini, jika aku merasa bahagia, aku akan bahagia. Dan justru sebaliknya, jika aku merasa tak bahagia, aku pasti akan tak bahagia. Laki-laki yang baru saja aku kenal itu telah menyadarkanku. Dia memberikan kekuatan baru untukku. Agar aku menghargai hidup ini, meski sesulit apa pun itu. Agar aku dapat merasa bahagia atas kehidupan ini.
Hidup ini sudah sepantasnya disyukuri dan dimaknai. Jangan hanya mengeluh dan tak mau berusaha untuk merubahnya menjadi lebih baik lagi. Hargai hidup ini, meski sesulit apa pun masalah yang dihadapi. Hadapi dengan senyuman. Hadapi dengan tabah dan sabar. Kebahagiaan pasti akan selalu ada di sisi.


oleh: Delia, divisi editor

Bukan Sekedar Kata

Mungkin ketika ada orang lain yang tingkahnya menjengkelkan, kita akan berkata, "Enggak punya sopan santun banget, sih!". Kalimat ini juga sering tidak diacuhkan oleh orang tersebut. Bagaimana kita menanggapi situasi seperti ini? 

Sopan santun memang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan bagi sebagian orang. Masyarakat Indonesia terkenal akan sopan santunnya. Namun, belakangan ini, kita sering melihat peristiwa-peristiwa yang memang di luar sopan santun. Masih hangat di dalam kepala kita tentang peristiwa tawuran dan pengeroyokan wartawan yang dilakukan oleh siswa SMA, pejabat negara yang tidur ketika menghadiri rapat presiden, seorang anak membunuh/menganiaya orang tua atau sebaliknya. Selain itu, contoh kecil di sekitar kita misalnya, merokok di tempatumum, membiarkan wanita hamil/tua berdiri di dalam bus, menerima telepon saat makan bersama orang tua, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. 
Sopan santun sebenarnya telah diajarkan sejak dini di diri kita, terutama dalam keluarga. Lalu di sekolah pun kita mendapatkan pengajaran sopan santun. Kembali ke contoh di atas, kita akan berfikir kenapa seorang murid SMA yang memang pasti tahu akan sopan santun, bertindak seperti itu? Para pejabat negara yang menjadi sorotan masyarakat, bersikap seperti itu? Apakah mereka lupa akan sopan santun?

foto: www.google.com
Seharusnya kita menanam sopan santun di diri kita sejak dini. Tidak hanya diucapkan, tetapi juga diterapkan di kehidupan kita. Sopan santun tidak hanya dalam bertindak, tetapi juga dalam berbicara dan berpakaian. Dengan bersopan santun, kita juga dapat belajar menghargai orang lain. Dengan begitu, tidak ada lagi perselisihan ataupun pertengkaran dengan sesama. 
Mulailah menerapkan sopan santun mulai dari diri kita sendiri, dengan begitu orang lain pun akan bersikap sopan santun dengan kita. Dan kita harus ingat, sopan santun bukan diucapkan, tetapi dilakukan!




 oleh: Puji Lestari