The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2015

Margonda Sang Pembela Negara

(sumber gambar: http://images.detik.com/community/media/visual/2015/11/09/38b4e5d8-22a2-49c3-bc95-025470165ddc_169.jpg?w=350)


Menyambut hari Pahlawan yang jatuh pada Selasa, 10 November ini, ada banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. Contohnya mengikuti sejumlah perlombaan, mengikuti suatu kegiatan sosial, atau mengikuti gerakan nyata lainnya yang dapat membangun serta meningkatkan jiwa patriotisme pada negeri. Namun, bagi yang belum dapat berpartisipasi, jangan bersedih dan berkecil hati. Karena ada alternatif lain, seperti mengenal sejarah dari sosok pahlawan asal tempat kita tinggal. Selain efektif untuk menumbuhkan kecintaan pada pahlawan tersebut, cara ini juga mampu membangkitkan rasa bangga dalam diri.
Meski begitu, tidak sedikit warga yang lupa atau bahkan belum tahu tentang sosok pahlawan zaman dahulu yang berjasa di lingkungan sekitarnya. Misalnya, pemahaman warga Depok terhadap nama Jalan Margonda Raya.
Sebagian besar warga atau orang-orang yang pernah berkunjung ke kota belimbing itu mengenal Margonda sebagai sebuah jalan besar yang selalu ramai. Bagaimana tidak, Jalan Margonda Raya adalah jalan utama Kota Depok yang penuh dengan aktivitas sebagian besar warganya karena terdapat banyak fasilitas yang disediakan untuk umum di sana. Di antara fasilitas tersebut ada kantor pusat pemerintahan, terminal bus, stasiun kereta api, rumah sakit, berbagai kampus perguruan tinggi, sekolah, kantor Polres, perumahan, hotel, berbagai pusat kuliner hingga pusat perbelanjaan. Singkatnya, pusat Kota Depok ada di jalan ini.
Kira-kira hanya sebatas itu warga Depok mengenal Jalan Margonda Raya. Padahal jika dikulik lebih dalam lagi, nama Margonda tidak semata-mata lahir begitu saja. Ada sejarah yang melatarbelakanginya.
Kata Margonda diambil dari nama pahlawan pada zaman kolonial Belanda, yakni Margonda. Margonda, yang memiliki nama asli Margana, lahir dan besar di Bogor. Membahas Margonda atau Margana membawa kita kembali ke masa Revolusi Kemerdekaan Pascaproklamasi tahun 1945. Margonda adalah seorang pemuda yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA (Nederlands-Indische Civil Administration) di Kalibata, Pancoran Mas, Depok, pada tanggal 16 November 1945. Beriringan dengan serangan kilat dari seluruh penjuru mata angin dan dilancarkannya oleh laskar-laskar demi membebaskan Kota Depok dari pendudukan NICA. Dalam pertempuran tersebut, Margonda tewas tertembak di bagian dada saat akan melempar granat ke arah musuh (Wenri Wanhar, 2011: 118-119).
Semasa hidupnya, Margonda memiliki sahabat dekat, yaitu Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. Ibrahim Adjie selamat dalam pertempuran dan terakhir menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, sedangkan TB Muslihat mengalami nasib yang sama dengan Margonda.
Jejak langkah Margonda dimulai saat ia menjadi pelajar analis kimia di Balai Penyelidikan Kimia atau Analysten Cursus milik pemerintah Hindia Belanda yang didirikan oleh Indonesiche Chemische Vereniging. Lembaga ini bertempat di Bogor. Selanjutnya pada 1940, Margonda mengikuti pelatihan penerbangan di Luchtvaart Afdeeling, Departemen Penerbangan Belanda. Namun, pelatihan penerbangan itu tidak berlangsung lama karena Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan pemerintah Hindia Belanda pada 1942. Saat Jepang menduduki Nusantara, Margonda tidak terlihat sepak terjangnya.
Namun, eksistensi Margonda mencuat saat Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1945. Ketika itu, Margonda mulai aktif dalam gerakan kepemudaan berbentuk laskar-laskar. Margonda, bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok, mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.
Perpecahan AMRI, karena anggotanya banyak yang bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS, dan kelompok kecil sejenis lainnya, membuat AMRI di bawah pimpinan Margonda memiliki usia yang relatif singkat. Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuang yang gugur.
Dalam situs merdeka.com, sejarawan UI, JJ Rizal, menyatakan tidak mengetahui jelas alasan pemerintah Bogor menamai jalan utama Kota Depok dengan nama Margonda. Dahulu Depok adalah kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor. Meski kurang jelas, Margonda tetap layak mendapat apresiasi dari warga Depok karena ia telah gugur demi membela bumi pertiwi ini.
Untuk itu, mari kita ubah kebiasaan apatis terhadap sejarah yang telah membangun masa kini. Karena bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya.

Oleh Putri Lestari
Editor: Fatimah


Kamis, 20 Februari 2014

Ramiz Azhar, dari Belajar Menggambar Hingga Menjadi Trainer Hypnotherapist



Hipnotist bukan hanya ilmu untuk melakukan kejahatan. Di tangan seorang mahasiswa, hypnotis dikemas menjadi ilmu yang bermanfaat bagi manusia. Ilmu tersebut belajar mengenal dunia melalui ilmu permainan pikiran serta mengaplikasikannya untuk berbagai kepentingan masyarakat. Ini adalah kisah perjuangan seorang mahasiswa yang membagi pikiran demi kepentingan masyarakat.

“Di sini, dalam kesibukan kehidupan, aku menemukan kenyamanan. Nyaman dalam berbagai hal.” ujar Ramiz Azhar, sang hiptnotherapist yang masih menjadi mahasiswa di Politeknik Negeri Jakarta.  

Segala keputusasaan dan kesia-sia yang telah diperbuat pada masa putih abu-abunya membuatnya terlibat menjadi seorang pelopor bangkitnya sebuah organisasi sekolah. Ia telah mengambil keputusan penting dalam hidupnya, yakni harus meninggalkan rasa malu dan pesimis yang kian mendera dalam dirinya untuk lebih tergugah dalam kemajuan hidupnya. Ia pun mulai berinovasi ntuk melakukan hypnotherapist.

“Saat itu aku hanya memikirkan inovasi yang dapat aku kembangkan yang belum pernah diminati orang lain,” ujar Ramiz.

Keinginannya akan suatu inovasi yang belum pernah diminati orang lain awalnya mendapat larangan dari kedua orang tuanya. Tetapi, setelah dia membuktikan kesalahpahaman mereka dengan rentetan prestasi yang membanggakan akhirnya mereka mengerti.

Belajar hipnotis merupakan hal dasar yang harus dia lakukan untuk dapat menjadi hypnotherapist. Ketertarikannya terhadap dunia permainan pikiran ini membuat dia bekerja keras untuk dapat menguasainya. Saat belajar dari seorang guru yang memahami ilmu hipnotherapist, Ramiz terus mencoba bersahabat dengan ilmu tersebut.


“Belajar Hipnotis ternyata nggak bikin kita bodoh. Malah dengan mempelajarinya, kita mengerti makna yang terpendam dalam kehidupan,” celetuk Ramiz. 

Semenjak berkuliah, dia mulai merangkul teman-teman organisasinya untuk membantunya mewujudkan cita-cita membangun suatu komunitas pecinta hypnotherapy. Awal pelatihan Terapi Sugesti--nama komunitas yang dibentuknya--, ia menjumpai berbagai kendala baik dalam periklanan programnya, maupun dari jadwal pelatihan yang ia bentuk. Namun, ia meyakini diri sendiri bahwa masalah seperti itu akan terselesaikan dengan berjalannya waktu.

Pelatihan-pelatihan yang ia selenggarakan merupakan ajang melatih orang-orang yang berminat dalam dunia hypnotherapist. Yah, kebanyakan alumni-alumni pelatihannya sekarang sudah dapat menyalurkan ilmu yang mereka dapat untuk kebutuhan pribadi maupun sosial.

Ramiz kian belajar dengan tekun tanpa mengesampingkan pendidikan formalnya. Akhirnya, ia meraih gelar informal berupa sertifikasi mengenai hasil belajarnya dalam dunia hipnotis. Bersamaan dengan gelar informal yang dia dapatkan, dia juga mendapat prestasi formal dengan lulus ujian nasional dengan nilai yang membanggakan. Kesanggupannya untuk mengatur dua kesibukannya tersebut merupakan sebuah anugrah tersendiri baginya.

Anak yang terlahir dari pasangan Eni dan Rakidi ini akhirnya memulai kehidupan barunya dengan masuk ke jenjang perkuliahan. “Entah apa yang saya pikirkan saya begitu tertarik dengan gambar, padahal saya belum mahir menggambar,” ujarnya ketika ditanyakan mengenai perasaan sebelum memilih berkuliah di bidang desain grafis.

Dari pelajaran yang didapatnya di kampus itu, ia pun mencoba menggabungkan unsur pendidikan formalnya dengan ilmu hypnotherapist. Metode hyopnotherapist yang ia ciptakan dari kedua unsur yang berkaitan dengan kehidupannya merupakan hyno drawing. Motivasi untuk membantu orang-orang yang tidak menggambar namun dengan cara ini, orang-orang tersebut dapat menghipnosis diri sendiri untuk dapat menggambar.
 
Selain metode itu , sekarang dia sudah membuat audio hypnosis dan video hypnosis untuk membantu orang-orang yang mengalami masalah dalam kehidupannya dengan membuat mereka menjadi relax dalam menajalani pekerjaannya.

“Sampai saat ini, itulah cara saya untuk mengisi kehidupan” pungkasnya mengakhiri percakapan. Seperti itulah dia menjalani kehidupannya. Sekarang yang ia perlukan hanya management waktu menjadi seorang mahasiswa sekaligus praktisi hypnotherapist.
 
 


Naskah: Fajar Winarso

Jumat, 22 November 2013

STREET LEVITATION: SENI DIUTAMAKAN, MATERI BELAKANGAN




 



Sejak dulu, Kota Tua merupakan tempat wisata sejarah yang sering didatangi wisatawan. Mereka tidak hanya melakukan perjalanan sejarah, melainkan melakukan wisata kuliner yang ada di sentral Jakarta itu. Kini, lingkungan sekitar Kota Tua telah disulap menjadi kawasan seni dari berbagai macam jenis.

Pengunjung dimanjakan dengan atraksi unik di berbagai sudut jalan. Di depan Museum Fatahilah, pengunjung bisa menemui atraksi manusia api dan atraksi menghebohkan lainnya. Tak jarang orang berkerubung untuk mengabadikan foto atraksi unik itu. Bergeser sedikit ke arah kiri Museum Fatahilah, kerumunan semakin banyak. Ternyata ada sebuah atraksi melayang di atas tanah. Mereka menamakan dirinya sebagai Street Human Levitation.

Perhatian penonton langsung menuju ke arah orang yang sedang melakukan aksi uniknya itu. Ia tengah duduk tanpa alas sambil membaca koran. Beberapa menit kemudian, ia langsung berganti posisi dengan mengangkat kedua kakinya sambil melayang di atas tanah. Penonton langsung mendekat untuk mencari tahu.

Adalah Jim, orang yang sedang melakukan aksi tidak biasanya itu. Ia merupakan salah satu penggagas dari adanya Street Human Levitation.

Ternyata, Komunitas Street Human Levitation ini bermula dari the street art. Pada awalnya, ada street art yang bernama humanoid manusia patung yang biasanya ada di Kota Tua juga. Karena terkesan biasa, street human levitation hadir agar penonton bisa tertarik memerhatikan aksi mencenangkannya itu.

“Kita ingin menampilkan sedikit trick dari the street art agar orang lebih suka. Dari terbentuknya Street Human Levitation, munculah crowdeed dan euphoria,” ungkap Jim Akay (29) saat setelah melakukan aksi melayangnya itu.

Jim bersama kedua temannya menjadi penggagas dari ide adanya human levitation ini. Mereka juga yang sering membuat konsep trick untuk street art itu sendiri. Mereka konsisten dalam memberikan hiburan jalanan untuk pengunjung. “Daripada hiburan kurang positif, lebih baik hiburan unik yang bisa berdampak positif juga,” ungkap Jim.

Pertunjukan di panggung tentu berbeda dengan pertunjukkan jalanan. Teknik-teknik dalam pertunjukan yang ada di panggung masih bisa disiasati karena jarak penonton dan atraktor yang jauh. Lain hal dengan pertunjukan jalanan. Jarak antara penonton dan atraktornya bisa hanya dua meter. Karena street art melakukan pertunjukan di jalan, Jim dan kawan-kawan terus mencari celah lubang supaya penonton tetap tidak bisa memahami apa yang sedang mereka lakukan.

Jim sering membawa ide segar untuk komunitasnya ini. Setelah Street Human Levitation ini sudah menjamur di daerah Eropa maupun India, Jim dan teman-temannya membawa hal baru di Indonesia ini. Mereka mengkombain pakaian dengan kostum tokoh Indonesia dan segala hal yang berbau Indonesia.

Pertunjukkan yang tidak jarang menarik perhatian penonton ini baru dilakukan di lingkungan Kota Tua. Kota Tua dipilih menjadi tempat yang tepat sebagai lokasi untuk latihan, berkumpul, dan pertunjukkan. Setiap Jumat-Sabtu-Minggu, pengunjung Kota Tua akan dikejutkan dengan atraksi melayang di atas tanah oleh Street Human Levitation ini. Sampai sekarang, ada empat orang berbeda yang melakukan aksi melayang itu.

Saat melayang di tengah kerumunan, pengunjung tak jarang menemui karakter yang berbeda-beda. Kalau hari Sabtu pengunjung melihat Michael Jackson sedang melayang, hari Minggu pengunjung bisa melihat karakter yang lain lagi. “Kadang kami menggunakan pakaian casual, maupun pakaian kantor. Kalau meniru tokoh, kami sering ambil Michael Jackson dan Pangeran Diponegoro,” ungkapnya.

Ada yang unik dari komunitas ini. Meskipun aksinya kadangkala menyita waktu, Street Human Levitation lebih mengutamakan untuk terus menggali keunikan dari karyanya dibanding memikirkan materi. “Dalam street levitation ini, lebih baik terus gali hal baru dan unik dibanding konsentrasi dengan materi. Nanti uang juga datang sendiri,” katanya. Gelas aqua tempat pengunjung menaruh duit pun tak jarang terisi penuh. Menurut Jim, kalau ada ide yang beda, maka orang bakal datang dan mencarinya dengan sendiri.

Penghasilan dalam sehari tidak terlalu dikalkulasikan oleh Jim dan kawan-kawan. “Sebenarnya nominal habis untuk materi sendiri, seperti makan, beli rokok,  dan lain-lain,” akunya.

Selama membuat kehebohan dengan aksinya yang tidak biasa itu, Jim dan kawan-kawan turut senang
bisa menghibur. Ia juga turut senang bisa berbuat sesuatu untuk ikut turut meramaikan Kota Tua agar masyarakat senang mengunjungi distrik sejarah Kota Jakarta itu. Dari situ, ia bisa melatih mentalitas untuk berinteraksi dengan audience. “Saya juga bisa lebih tau tentang karakter audience dari berbagai segmen,” ungkapnya.

Namun, ia masih memiliki tantangan pribadi dalam setiap aksinya, yakni interaksi dari penonton dan mental. “Kadang, teman sendiri sampai tidak mengenali saya,” ungkap Jim. 

Untuk ke depan, Jim masih terus berusaha memikirkan ide yang tidak terbayangkan orang lain. Ia pun turut berharap agar pusat wisata kota Jakarta itu terus diramaikan oleh pengunjung. “Kalau saya berharap Kota Tua ini sendiri lebih banyak yang datang. Euphoria ada, liburan murah, dan tidak komersil juga,” tutupnya.


 
Deasy Amalia
Dok. SHL

Sabtu, 01 Juni 2013

Sosok Pemimpin Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Agus Budianto




Agus Budiyanto. Siapa tak kenal mahasiswa Jurusan Akuntansi kelahiran 3 Agustus 1992 ini? Pria Jawa yang menjelma menjadi sosok Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ini ternyata punya hal menarik untuk ditelisik. Mulai dari Budi kecil ‘jail’ hingga perjalanan panjang mencari jati diri tentang sebuah arti yang mengantarkannya memangku jabatan sebagai pemimpin para mahasiswa.

Putra pertama pasangan Haryanto dan Fatikah yang lahir di Tegal hampir 21 tahun lalu ini ternyata punya kebiasaan jail semasa kanak-kanak. Budi – begitu ia disapa – pernah suatu hari melukai matanya sendiri karena petasan yang ia pasang di dalam selokan tak kunjung meledak, petasaan tersebut baru meledak ketika ia melongok ke dalam selokan. Dia juga pernah berurusan dengan pemuda yang tengah bermain karambol hingga mendapat pukulan karena ternyata salah satu pemuda tersebut sedang mabuk. Kakak dari Diantika Putri ini juga pernah merubuhkan susunan piramida jeruk di pasar, karena jeruk bagian bawah sebagai pondasi ia tarik ketika menemani ibunya yang tengah berbelanja.

Budi kecil yang tumbuh menjadi remaja tanggung pun tak luput dari kenakalan remaja, pernah bergaul dengan lingkungan yang kurang tepat, namun beruntung hal itu tidak berpengaruh terhadap nilai akademiknya terbukti ia mampu masuk ke sekolah menengah favorit SMA 2 Cibinong.

Semasa SMA, ia menemukan kelompok pertemanan baru yang membawanya menjadi salah satu personil BAH Band (Burn After Hear Band) menjadi penabuh drum, loncat ke vocalis, hingga menjadi gitaris. Popularitas Bah Band terbukti dengan berbagai prestasi dan lagu mereka yang menjadi hits dikalangan remaja, terutama single dengan lirik berbahasa inggris yang diciptakan Budi. Kesuksesannya bersama Bah Band ternyata membuat kehadirannya dirindukan teman – teman  lama, hingga akhirnya terjadi perkelahian yang menyebabkan tangan kanannya terluka karena salah memukul tembok dan akhirnya ia kesulitan untuk mengepalkan tangannya hingga kini.

Budi yang ternyata seorang ketua kelas sewaktu kelas X SMA ini pernah mengalami hal paling memalukan ketika ia dipecat dihadapan teman – temaannya dan digantikan begitu saja dengan siswa lain, bukan hanya itu Budi yang awal di juruskan ke IPS bersikukuh bahwa ia mampu menjadi anak jurusan IPA, Kegigihannya membawa ia berani menyambangi kepala sekolah dan mengajukan argumentasi bahwa ia mampu untuk mengikuti program belajar IPA. Hal ini ternyata tak sia – sia ia berhasil mendapat jurusan IPA keinginannya.

Lama berselang hingga di akhir masa SMA ia harus bersiap menghadapi ujian Saringan Nasional Masuk Perguran Tinggi Negeri (SNMPTN) . Budi yang mengambil les tambahan di Nurul Fikri dan mengikuti SNMPTN itu awal mengincar Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Politik namun sayang setelah melakukan empat kali tes usahanya tak membuahkan hasil yang ternyata hal tersebut mampu membuatnya menangis dipangkuan ibunya. “Bagaimana bisa ia yang sudah berusaha lebih tidak diterima, sedang seorang teman lainnya yang terkesan tidak niat dapat menembus PTN sesuai pilihannya”. pikir Budi.

Sampai akhirnya sang ibu memintanya agar mengikuti Ujian Masuk Politeknik Negeri Jakarta (UMPN) dan memilih jurusan akuntansi yang tentu berbeda dengan jurusannya sewaktu SMA. Menuruti saran sang ibu dan mendapat pencerahan dari guru lesnya, ia pun mencoba UMPN, dan berhasil diterima dengan perjuangan yang tak mudah tentunya.

PNJ Berbudi
Tak ada yang tahu akan jadi seperti apa pria yang memiliki motto hidup ‘Biar urakan, sholat tetap tak tertinggalkan’ ini. Berbekal kisah seorang teman yang sukses berkuliah di PNJ awalnya Budi hanya bermimpi agar ia bisa pergi ke berbagai daerah secara gratis, dan fotonya terpampang di baliho kampus, tapi siapa yang menduga bahwa ia mampu mendapatkan lebih.

Budi yang mencoba peruntungan menjadi panitia Pemilihan Raya (Pemira) 2011 sepertinya mulai menemukan jalannya. Menjadi panitia dibeberapa kegiatan ia lakoni hingga mimpinya yang pertama tercapi. Sekjen FKMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik Se-Indonesia) PNJ tertarik pada semangat Budi, dan mengajaknya untuk mengikuti Munas FKMPI di luar daerah, sampai pada pencalonan dirinya menjadi ketua BEM 2012 pun mewujudkan mimpinya yang ke dua bukan hanya potongan foto berukuran kecil yang ada di baliho kampus namun satu baliho penuh itu adalah miliknya sendiri. Kini entah sudah berapa kali ia ke luar kota dan ada berapa baliho yang memajang fotonya dibarisan awal, yang pasti hampir semua mimpinya telah terwujud.

Menjadi seorang ketua BEM mungkin bukan hal yang dapat diprediksi budi, menang telak dari lawannya membuat popularitas Budi semakin meroket, jadi wajar saja banyak mahasiswi yang mengelukan namanya. Selama meangku jabatan menjadi ketua BEM ia berhasil melakukan lobi politik diantara membawa turun Johan Budi S.P menemui mahasiswa untuk memberikan keterangan. Ditanya strategi keberhasilan membujuk juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut ia hanya menjawab “Saya ga ada strategi yang gimana – gimana ya intinya komunikasi lah” .

Penyelenggaraan Dies Natalies – perayaan HUT PNJ – adalah salah satu buah percobaan Budi bersama rekannya di BEM Adhi Indra Kusuma jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Ramai dan selalu meriah para mahasiswa mengenakan jakun dan bekeliling kesetiap jurusan hingga berhenti di lapangan utama untuk mendengarkan orasi ketua BEM, dan MPM serta mendengarkan hak jawab Direktur PNJ terhadap tuntutan mahasiswa, sayangnya Budi masih merasa ada yang kurang dari hiruk pikuk perayaan tersebut “Sayangnya dalam Dies Natalies mereka hanya sekedar korban semangat aja, setelah itu lupa.” kegiatan ini diwujudkan Budi dan rekannya bertujuaan agar para mahasiswa mencintai dan bangga terhadap kampus mereka sendiri.

Budi juga berpendapat sebagai mahasiswa agar kita dapat bermanfaat bagi lingkungan masyarakat adalah, kita harus memanfaatkan sarana yang ada di kampus, dan adapun sarana yang dimaksud adalah berbagai Lembaga Formal Kemahasiswaan seperti MPM, BEM, HMJ, dll dengan itu semua kita ibarat punya banyak tangan karena kita mampu melakukan banyak hal, kita bisa membuat desa binaan, melakukan kontrol terhadap pemerintah, membuat pergerakan, menggalang dana, dan menambah wawasan dengan kajian. Sekedar ikut kepanitiaan itu juga termasuk bentuk aktualisasi kita –Mahasiswa– untuk bermanfaat.

Ia menambahkan karena setiap orang memiliki passion tersendiri, dan tiap orang memiliki jalur kebermanfaatannya masing – masing, yang terpenting mahasiswa harus menggunakan fungsi yang tersemat dalam diri mereka. Bukan hanya sekedar berkuliah lalu pulang, yang sebenarnya memberi pengajaran lebih adalah di ‘jalan juang’ semuanya memang butuh pengorbanan, mahasiswa harus berani berkorban jangan egois dan itulah ‘totalitas perjuangan’.

Budi tidak bisa dikatakan baru dalam jalur perjuangan, sejak dulu ia terbilang aktif dan memiliki banyak kegiatan jadi jangan salah berpikir bahwa sikapnya selama ini adalah efek atau sekedar citra seorang ketua BEM, ia selalu berpesan kepada rekannya di BEM bahwa sebagai pemuda kita memiliki pedang samurai yang bisa kita gunakan untuk apa saja, lalu kenapa kita tidak memanfaatkan sampai ke titik maksimal bukan hanya untuk sekedar memotong bawang. Jangan pula ditanya soal identitasnya walau dulu begitu mendamba UI, dan IPB tapi kesetiaannya telah terbukiti perjuangan dan loyalitasna menjadi ketua BEM hingga medekati akhir masa jabatannya tak pernah ia sia – sia kan walau sibuk menyusun TA (Tugas Akhir) ia masih sibuk mengurusi dana kemasiswaan yang mandek, mengajak rekan lainnya mengusut langsung ke kementrian terkait, serta melakukan aksi dalam rangkan 15 tahun Reformasi.

Hingga di akhir sesi tanya jawab GEMA dengan Agus Budiyanto, ia memiliki pendapat lain tentang mahasiswa pasif “It’s their own choice. Mungkin mereka punya cara sendiri, yang jadi masalah, apakah mereka sudah terlalu nyaman dengan ini semua? Apakah mereka terlalu egois dengan memikirkan kehidupannya saja? Saya sih ENGGAK! Dan mudah – mudahan mereka juga enggak” tuturnya singkat.

Budi yang akan mengakhiri masa jabatannya ini memang belum sepenuhnya menuntaskan mimpinya untuk PNJ. Akankah misi ini akan mampu diteruskan dengan pemimpin mahasiswa yang baru? Entah tapi apapun itu mari kita dukung, dan tak lupa memberi ucapan selamat bagi pemimpin yang telah berusaha memberikan yang terbaik bagi para civitas PNJ yaitu Agus Budiyanto.



Naskah  : Bunga Padma Putri
Foto        : Dok. Budi

Rabu, 06 Maret 2013

The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC





Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari lejitan video cover lagu Telephone-Lady Gaga yang diunggah di situs Youtube, trio muda ini kini telah menjadi salah satu grup vokal berbakat yang mewarnai industri musik Indonesia.  Bahkan grup vokal yang kerap disapa GAC ini pada pertengahan 2012 lalu telah sukses merilis sebuah album perdana yang bertajuk “Gamaliel Audrey Cantika” .

 Tentunya kesuksesan ini tidak bisa terlepas dari tangan kecanggihan teknologi internet, khususnya di media Youtube. Tidak dapat dipungkiri, Youtube memainkan andil yang besar dalam kesuksesan trio ini. Situs yang telah menjadi direktori video terbesar dan terlengkap di jagad maya ini menjadi media yang efektif bagi sejumlah anak muda untuk mengekspresikan bakat dan talentanya. Bahkan tak jarang popularitas seseorang bisa melejit hanya dengan mengunggah video kreatif di situs ini. Gamal Audrey Cantika merupakan bukti nyata keberhasilan kerja antara bakat anak muda dan kecanggihan media sosial Youtube.

Pada kesempatan kali ini, GEMA berkesempatan untuk menyapa dan berbincang secara langsung dengan The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon, Gamal Audrey Cantika. Keisengan dan kebosanan remaja sekolah pada rutinitas kemudian menjadi pemicu utama duo Tapiheru-Gamal dan Audrey mengunggah video cover lagu- lagu barat di Youtube.

“Waktu itu tahun 2008 dan aku masih SMP, lagi mau ujian malah. Karena bosen dan butuh refresh pas belajar, akhirnya iseng deh bikin-bikin video cover sama Gamal,” tutur Audrey. Gamal menambahkan bahwa pengunggahan video bernyanyi mereka di Youtube awalnya hanya iseng dan untuk lucu-lucuan saja karena saat itu Youtube memang sedang booming. Banyaknya permintaan cover lagu dari teman- teman sebaya mereka mendorong duo Tapiherui ini untuk terus membuat video cover.

Sejumlah lagu barat seperti Break Your Heart (Taio Cruz), Lucky (Jason Mraz), Poker Face (Lady Gaga) dan Telephone (Lady Gaga) menjadi video- video jagoan Gamal dan Audrey yang paling banyak ditonton. Bahkan video cover Telephone (Lady Gaga) sempat mencapai jumlah 870.524 penonton. Video ini pulalah yang kemudian mempertemukan duo ini dengan Cantika Abigail yang sama-sama kerap mengunggah video bernyanyi di Youtube.

“Awalnya aku gak tahu kalau mereka ini orang Indonesia. Aku kira orang Filipina. Tapi kok ada Tapiherunya. Terus aku kontak aja. Lha ternyata mereka malah tinggal di Jakarta! Haha.

Berbagai respon datang dari kawan-kawan sebaya trio ini saat berbagai video cover yang mereka unggah menghebohkan jagad maya di Indonesia. Banyaknya respon positif dari sekitar membuat trio ini semakin bersemangat mengunggah karya-karya video cover mereka. Hingga kemudian popularitas ini membawa mereka pada tangan label musik ternama Sony Music Indonesia yang pada turut membidangi lahirnya single perdana Gamal Audrey Cantika yang berjudul “Ingin Putus Saja” di tahun 2010.


“Kaget banget pastinya. Secara, kita nggak ada background apa-apa,” ucap Audrey sambil tertawa saat ditanyai reaksi mereka tentang ajakan label Sony.

Tentunya banyak kawan-kawan muda yang bertanya-tanya bagaimana bisa trio ini dengan mahirnya menggunakan situs Youtube sebagai media untuk berkarya dan bahkan dampaknya pada popularitas yang hari ini mereka dulang. Trio ini mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya tidak mempunyai metode tertentu agar video yang diunggah bisa mendapat banyak penonton. Bahkan untuk media promosi pada saat itu mereka cukup memasang link video pada profil Friendster dan myspace mereka masing- masing.

“Sebenarnya sih buat kita gak ada trik kusus untuk memancing viewers dan subscribers. Kita hanya melakukan apa yang kita sukai.” Para penggemar musik RnB ini juga mengutarakan bahwa mereka banyak menyanyikan lagu-lagu favorit mereka agar bisa dinikmati, seperti Payphone. “Awal-awal promosi video sih kita pasang link video di friendster dan myspace. Setelah booming-nya facebook dan twitter, baru deh promosi di situ,“ tambah Gamaliel saat menceritakan pengalamannya.

Bagi trio vokal yang masih berkuliah ini, satu-satunya trik mereka untuk memaksimalkan penggunaan Youtube hanyalah dengan mencintai apa yang mereka lakukan dan menjadi orisinil. “Kalau suka, ya silahkan berkarya saja. Tunjukkan ke orang-orang apa yang disuka dan jangan pernah takut. Pasti kalau udah suka, nggak mikirin lagi viewers-nya banyak atau nggak,” jelas Gamal.

Tidak heran popularitas dan kesuksesan yang diraih trio ini menjadi awet dan bukan sekedar popularitas abal. Bakat dan ketulusan mereka dalam berkarya di situs Youtube justru menjadi nilai jual yang menarik banyak penonton.  Meskipun tetap ada unsur kebetulan, namun unsur tersebut kemudian dipadukan dengan kreativitas, kejujuran dan kerja keras yang diutarakan sehingga mereka bisa eksis dalam waktu yang cukup lama.

Dibalik kesuksesan GAC, tidak adil jika para penggemar trio ini dilupakan. Yup, GAC Troops begitulah mereka menyebut para penggemarnya. Wulan, mahasiswi Universitas Dipenogoro mengaku dirinya telah mengagumi GAC sejak tahun 2009 saat video cover Gamal dan Audrey berjudul Telephone diupload. “Aku suka banget sama GAC. Suara mereka keren dan tetap konsisten dalam bermusik,” ungkapnya. Sejak GAC mulai merilis album baru, Wulan beserta teman-temannya yang lain selalu setia mendatangi performa GAC sebagai balasan rindu penantian terhadap album GAC.

Saat ini trio GAC lebih berfokus pada promosi album meskipun masih tetap membuat sejumlah video cover seperti sebelum-sebelumnya. Ketika ditanya tentang minat bertemu Youtubers Indonesia lainnya, mereka mengaku bahwa mereka pernah berkolaborasi dengan Adera dan Boyz II Boys yang merupakan Youtubers Indonesia. Bagi mereka sejujurnya di Indonesia penggunaan Youtube sebagai media berkarya masih kurang maksimal.

“Harusnya terus berkarya saja, biar gak cepet puas. Dan yang penting cintai apa yang kamu lakuin,” kata Cantika.  Ia pun turut berharap agar Youtube bisa terus membantu melahirkan karya-karya anak bangsa yang berkualitas.

Bagi ketiganya, harapan terbesar bagi para pengguna Youtube di Indonesia adalah agar bisa berkarya  dengan jujur, sesuai passion, tahu kapasitas, dan yang terpenting tidak menjadi orang lain. Karena bagi mereka, hal-hal itu merupakan salah satu kunci yang bisa membuat penggunaan Youtube menjadi maksimal.

Nah, kalau kamu ingin mengekspresikan bakat dan berkarya melalui Youtube, ayo mulai dari sekarang. Dengan tahu apa yang kamu mau dan mencintai yang kamu lakukan, keberhasilan melalui Youtube seperti yang diraih Gamal Audrey dan Cantika bukan tidak mungkin kan?



Teks: Deasy A.
Foto: Anggraeni Dwi

Senin, 28 November 2011

Budi 'XO-IX' Tinggalkan Grup Rap 'Batik Tribe'

Boyband XO-IX



        Sejak kemunculan Sm*sh di belantika musik Indonesia, semakin banyak bermunculan boyband-boyband baru yang serupa. Salah satu boyband yang terbilang anyar ialah XO-IX. Mencoba peruntungan dengan single perdana berjudul “Cukuplah Sudah”, XO-IX (Extra Ordinary Nine) kini telah dikenal oleh gadis-gadis remaja penikmat musik khas ala boyband hanya dalam waktu kurang dari enam buan. Terdiri dari sembilan cowok terpilih yang selalu tampil  fresh, salah satu personil XO-IX ternyata berasal dari grup rap Batik Tribe, yaitu Budi. 

Dengan bergabungnya Budi bersama XO-IX, tentunya akan berdampak pada grup Batik Tribe yang telah lebih dulu mengangkat namanya dengan aliran musik Hip Hop dan R&B. XO-IX yang mengaku berkiblat pada boyband Amerika ini memang turut membawa musik rap di dalam lagu mereka, tapi porsinya tentu tak banyak. Bagian tersebutlah yang kemudian diperankan oleh Budi. Lalu, bagaimana bisa seorang rapper beralih ke boyband? Mungkin itulah pertanyaan yang paling membuat fans Batik Tribe penasaran. Dalam kesempatan berbagi informasi kali ini, GEMA sudah berhasil mewawancarai Budi beberapa waktu lalu. Berikut hasil obrolan GEMA bersama Budi XO-IX.

Halo Budi, apa kabar?
Halo juga, kabar saya baik.

Bisa diceritakan sedikit review tentang perjalanan karier Budi di industri musik Hip Hop?
Karier saya di Hip Hop, saya pernah mengikuti album kompilasi Berontak pada tahun ‘99 dan Kembali Berontak pada tahun 2002 dengan grup Booby Trap. Saya juga pernah membuat album Hip Hop dengan grup Batik Tribe dengan judul album Melangkah tiga tahun lalu, tepatnya 2008.

Saat ini, apa saja kegiatan yang sedang memenuhi jadwal Budi?
Jadwal saya saat ini, sedang promo dengan XO-IX dengan single pertama berjudul “Cukuplah Sudah” di stasiun televisi dan radio.

Bisa ceritakan tentang XO-IX?
Nama boyband-nya XO-IX (extra ordinary nine). XO-IX terdiri dari sembilan orang dengan latar belakang anggota yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari seorang dancer, penyanyi, rapper, capoeira, dan lain-lain. Pada awalnya, label Sony membuat audisi akhir Desember tahun lalu. Audisi tersebut terdiri atas empat sesi. Peserta audisinya sendiri sekitar 80 orang, dan akhirnya yang diterima hanya sembilan orang. Sebelum ditetapkan sembian orang, label Sony mau membuat lebih dari 12 orang dalam satu boyband, tapi urung dijalankan. Tanggal resmi terbentuknya XO-IX, yaitu pada 21 april 2011. Terhitung baru, tapi selama tiga bulan pertama, kami dilatih vokal dan dance untuk perform.

Lalu, berapa lama Budi dan XO-IX dikontrak oleh major label sekelas Sony?
Saya dan XO-IX dikontrak selama lima tahun.

Apa yang membuat Budi memutuskan untuk pindah aliran dari Hip Hop ke boyband?
Sebenarnya saya tidak memutuskan untuk pindah aliran karena saya tetap di jalur yang sudah ada. Di XO-IX, saya masih bertindak sebagai rapper, cuma di formatnya aja yang beda atau packaging-nya yang beda. Saya punya alasan tersendiri untuk itu semua, yaitu karena menurut saya, musik bisa di-explore dan di-combine ke mana aja.

Apa aja keuntungan yang dirasakan setelah bergabung dengan XO-IX?
Keuntungannya ialah bisa mendapat lingkungan baru, bertemu hal-hal yang juga baru, banyak ilmu-ilmu baru dan ternyata kalau dipelajari lagi lebih jauh, musik itu sangat kaya.

Dalam waktu dekat, ada rencana untuk membuat album, single, atau video klip?
Rencananya insya Allah akan membuat album karena video klip sudah ada, dan bisa dibuka di internet. Buat yang penasaran, tinggal ketik XO-IX dengan judul “Cukuplah Sudah”.

Bagaimana perasaannya ketika memutuskan untuk meninggalkan Batik Tribe?
Untuk perasaan, pasti ada rasa sedih, tapi untungnya kami saling men-support satu sama lain karena ingin memajukan musik Indonesia.

Terakhir, apa rencana ke depan yang masih menjadi target untuk dicapai?
Harapannya, XO-IX bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan albumnya laku di pasaran, Saya juga ingin berkolaborasi dengan musisi-musisi senior di Indonesia dan internasional. Terakhir, saya ingin go internasional.

Semoga Budi bersama XO-IX semakin sukses dalam karier bermusik, dan segala target yang diharapkan bisa tercapai.

 




Budi XO-IX


 Naskah: Alin Esa Widara
Sumber foto: dokumen