The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

The Indonesian Living Legend of Youtube Phenomenon: GAC

Bagi sebagian besar anak muda yang menggandrungi situs Youtube, nampaknya nama Gamal, Audrey, Cantika tidak lagi asing di telinga. Berawal dari . . .

Tampilkan postingan dengan label News Update. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News Update. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

Westernisasi Sampai Lupa Bahasa Sendiri

Dewasa ini, Indonesia sedang larut-larutnya dalam arus globalisasi dan salah satu yang dibawa oleh arus globalisasi adalah proses westernisasi. Lalu apa itu westernisasiWesternisasi merupakan penyerapan adat dan budaya bangsa barat oleh bangsa timur. Proses tersebut membawa banyak perubahan, baik maupun buruk.
Dahulu negara kita memang pernah dijajah bangsa barat, mungkin itu menjadi salah satu faktor yang menguatkan proses westernisasi masuk ke dalam segi-segi kehidupan bangsa Indonesia. Apalagi zaman sekarang, proses westernisasi semakin mudah terjadi karena arus globalisasi dan kemajuan zaman. Hal apapun dapat tersebar ke seluruh dunia dengan mudah dan cepat karena di zaman sekarang, meng-global bukanlah mimpi di siang bolong.
Contohnya, dalam bidang berbahasa. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri ada banyak bahasa yang notabene merupakan serapan dari bahasa Inggris, bahasa Belanda, ataupun bahasa bangsa barat lainnya. Pengaruh proses westernisasi dalam bidang kebahasaan memang sangat kuat. Bahkan bisa kita lihat saat ini di media sosial yang sedang tren di kalangan anak muda, mereka selalu bangga dan dengan mudahnya menggunakan bahasa asing di setiap post yang mereka bagikan. Ironisnya lagi, beberapa anak muda di Indonesia pun lebih fasih berbahasa asing daripada bahasa bangsanya sendiri.
            Proses westernisasi dalam arus globalisasi yang begitu deras menerjang zaman telah merenggut identitas bangsa secara perlahan. Padahal dalam naskah Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak kemajuan bangsa dari penjajahan, dijelaskan bahwa para pemuda dan pemudi mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia. Namun, kenyataannya sekarang para pemuda dan pemudi lebih nyaman menggunakan bahasa asing, bahkan lupa bahasanya sendiri. Zaman sekarang para murid-murid pun lebih bangga jika nilai bahasa Inggris lebih besar daripada nilai bahasa Indonesia. Bahkan jurusan sastra Indonesia di beberapa universitas, sering dianggap sebelah mata. Sungguh ironi negeri ini. Seharusnya kita bisa mengikuti negara Prancis, di mana para rakyatnya bangga untuk berbicara dan mempertahankan bahasa Prancis, bahasa nenek moyangnya sendiri.
            Memang, bahasa asing apalagi bahasa bangsa barat dapat menunjang berkehidupan dalam zaman global saat ini, khususnya dalam bidang karir. Bangsa barat merupakan bangsa adikuasa di dunia. Banyak perusahaan dari bangsa barat yang telah mendunia dan membutuhkan banyak karyawan yang bahkan diwajibkan untuk fasih berbahasa Inggris. Selain itu, di era kemajuan teknologi seperti ini, kita juga diharuskan untuk fasih berbahasa asing sebagai penunjang agar mengerti bahasa untuk menjalankan program pada alat teknologi yang dibuat, yang umumnya memang banyak dibuat oleh bangsa barat.
Namun, sudah seharusnya kita tidak boleh menelantarkan bahasa Indonesia. Kita harus kembali ingat, bagaimanapun juga bahasa Indonesia merupakan salah satu pemersatu bangsa. Dengan bahasa Indonesia pula kita bisa memproklamirkan kemerdekaan bangsa. Jangan terlalu mendewakan bahasa asing dalam berucap karena salah satu identitas suatu bangsa adalah bahasanya. Maka dengan melestarikan bahasa Indonesia, kita telah mewujudkan nasionalisme dengan cara yang sangat mudah.
Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Sudah seharusnya kita lebih bangga berucap dan berbahasa menggunakan bahasa nenek moyang kita sendiri. Tunjukan dan junjung tinggi identitas bangsa. Gunakanlah bahasa asing pada tempatnya dan tetap lestarikan bahasa Indonesia, bahkan dalam obrolan santai ataupun dalam post yang kita bagikan di media sosial.

Oleh Herdi Alif Al Hikam



Selasa, 06 Oktober 2015

Opening Ceremony dan Parade OIM UI 2015

Olimpiade Ilmiah Mahasiswa (OIM) adalah salah satu program kerja BEM UI yang menjadi ajang kompetisi tahunan terbesar UI di Bidang Keilmuwan. Di kali ke-delapan ini, OIM UI 2015 mengusung tema "Bersama Membangun Negeri, Memenangkan Kompetisi". Kegiatan yang akan berlangsung hingga 16 Oktober 2015 nanti, telah resmi dibuka dalam Ceremony Opening dan Parade OIM UI 2015 pada hari Jumat, 2 Oktober lalu, di Kampus Universitas Indonesia, Depok. 
Opening Ceremony merupakan sebuah bentuk pengumuman untuk seluruh masyarakat dan sivitas akademika UI, bahwa OIM UI 2015 telah resmi dibuka. Di dalam Auditorium Pusat Studi Jepang, acara tersebut dibuka oleh dua MC yang memberikan salam pembuka kepada para peserta yang kemudian diikuti sambutan dari Project Officer OIM UI 2015, Muhammad Faathir mahasiswa FEB 2013, Direktur Kemahasiswaan UI Dibyo PLH, dan Rektorat UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Selain memberikan sambutan, dari tempatnya berdiri di muka acara, Bapak Rektor juga memukul sebuah gong sebanyak tiga kali sebagai tanda sahnya OIM UI 2015 telah dibuka. Tidak ketinggalan, sebuah tarian UMAMI turut memeriahkan acara yang dimulai sejak pukul sembilan pagi itu. 
Acara dilanjutkan dengan kegiatan talkshow yang mengedukasi dan menginspirasi peserta Opening Ceremony. Talkshow yang bertemakan "Persaingan Dunia Kerja Jelang MEA" ini diisi dua pembicara, yaitu Mohammad Mustaqim, S.E., M.M., AAAII., ICLFP., AAAK., QIP. (Global Headhunter, sekaligus pengajar di FEB UI) dan Andhika Putra Sudarman (Mahasiswa Berprestasi Nasional 2014). Dengan segudang prestasi dan pengalaman, keduanya memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam kesempatannya, Bapak Mustaqim bercerita hal yang menarik perihal pengalamannya bekerja di UK bersama dengan orang asing. Sedangkan Andhika berbagi kiat-kiat sukses untuk bersaing di dalam MEA. Setelah dua pembicara menyampaikan materinya, sebuah diskusi antara peserta dengan narasumber yang membahas MEA sangat menarik diuraikan. 
Selanjutnya, sekitar pukul tiga sore di tempat lain, penampilan yel-yel unik dari 14 Fakultas UI meramaikan Rotunda UI. Ke-14 fakultas tersebut di antaranya : Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Farmasi, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Psikologi, Fakultas Teknik dan Program Vokasi (D3). Demi kelancaran pelaksanaan Parade OIM itu, rute Bus Kuning (merah dan biru) telah ditutup pada pukul dua siang selama kurang lebih 60 menit, yang memungkinan mengganggu arus lalu lintas di sekitar kampus UI. 

Kompetisi itu merangkul seluruh mahasiswa aktif kategori Program Sarjana (S1) dan Program Vokasi (D3). Terdapat 14 jenis lomba yang akan diperlombakan nantinya. Empat belas jenis lomba tersebut dikelompokkan ke dalam dua cabang, yaitu tujuh Cabang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan 7 Cabang Non-PKM. Lomba cabang PKM terdiri dari: 
1. Research Project/ PKM-Penelitian (PKM-P)
2. Business Project/ PKM-Kewirausahaan (PKM-K)
3. Social Project/ PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M)
4. Technology Project/ PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T)
5. Science Project/ PKM-Karsa Cipta (PKM-KC)
6. Journal Competition/ PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI)
7. Paper Competition/ PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT)
Sementara untuk lomba Non-PKM terdiri dari:
1. OIM Quiz
2. English Debate
3. Indonesian Debate
4. Essay Competition
5. Inspirational Poster
6. OIM Exhibition
7. OIM Parade 

Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih kepada para peserta Opening Ceremony dan Parade OIM UI 2015 untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi MEA di penghujung tahun nanti. Bagi peserta yang terinspirasi dan termotivasi, semoga dapat terus menebarkan semangat positifnya untuk orang-orang di sekitarnya. 

Oleh Putri Lestari 
Editor: Abdurrahman Naufal


Senin, 05 Oktober 2015

Seminar: MAGIC-O RADIO by Binus University

MAGIC-O RADIO
Lets Get Be Witched by The Broadcasting World


BVoice Radio adalah salah satu media informasi audio BINUS University yang berdiri sejak tahun 1997. Dalam rangka penerimaan mahasiswa baru BINUS University tahun ajaran 2015/2016, panitia BVoice Radio angkatan tahun 2014 bermaksud mengadakan Seminar Broadcast Knowledge XIV dengan tema “MAGIC-O RADIO”.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan dunia radio dan untuk berbagi pengalaman antara pembicara dengan pendengar atau mahasiswa baru dan juga mengarahkan Binusian 2019 untuk menjadi pribadi yang professional khususnya di bidang broadcasting,” ujar Arif Rahman selaku Station Manager Bvoice Radio 2015.

Sesuai dengan temanya, pada seminar MAGIC-O RADIO tahun ini, diharapkan peserta dapat tersihir dan menjadi tertarik masuk ke dalam dunia radio. Seminar tersebut dilaksanakan Sabtu, 3 Oktober 2015, pukul 13.00 sampai 17.30 WIB. Bertempat di Auditorium Binus University, Kampus Anggrek.

Dengan membandrol harga tiket masuk sebesar Rp50.000, penonton juga mendapat makan siang, gelang, dan tabloid Femina. Serta mendapat hiburan dari beberapa bintang tamu yang turut meramaikan acara ini, yaitu Amanda, Segera, dan SoulVibe.




Sesi pertama dengan tema “Dare to Dream” diisi oleh tiga orang pembicara yang merupakan alumni BVoice Radio, yaitu Kresna Julio dari Prambors, Reza Alqadri dari Hits FM, dan Sahil Mulachela dari Indika FM.

“Berani untuk bermimpi? Menurut gue, dan ini adalah satu dari sebagian kata-kata yang paling gue inget dari senior di BVoice dulu, kalian nggak boleh takut untuk bermimpi. Kalau bermimpi aja takut, itu tandanya kita nggak akan berani bangun. Kalau bangun aja gak berani, kita nggak pernah ngerasain jatuh, dan kalau kita nggak pernah ngerasain jatuh, kita nggak akan tahu bagaimana perjuangan untuk bangkit,” jawab Kresna.

Sesi kedua dengan tema “Enrich Your Broadcasting Knowledge” diisi oleh dua pembicara dari Announcer Trax FM yaitu Surya dan Molan.

“Nggak ada cara untuk memperkaya ilmu broadcasting selain banyak ngobrol dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Karena dengan cara itu, empati lo akan semakin terasah. Sebagai penyiar, jangan hanya mau di dengar tapi lo harus mau dan harus bisa jadi pendengar yang baik,” ujar Surya.


Oleh Nanda Febriani
Fotografer: Awita Ekasari Larasati

Senin, 21 September 2015

Seminar: ODYSCE 2015 by UNJ

Pembangunan Transportasi Berkelanjutan Menghadapi Krisis Energy Nasional
“One Day Seminar Of Civil Engineering”

Menghadapi krisis energi nasional yang terjadi di Indonesia, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Negeri Jakarta,  menggelar seminar yang berlokasi di Gedung L, Kampus A, Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur. Seminaryang diselenggarakan Sabtu, 19 September 2015 pukul 09.00 - 16.00 WIB ini bertemakan “One Day Seminar Of Civil Engineering” yang menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka di bidang energy dan transportasi. Seminar ini dibagi menjadi dua topik, yaitu topik pertama diisi oleh dua pembicara.




  1. Ir. Jujun Endah Wahyuningrum selaku Direktur BSTP – Kementrian Perhubungan, membahas “Kondisi atau Permasalahan Transportasi serta Kebijakan dan Strategi Menciptakan transportasi Perkotaan Berkelanjutan. 
  2. Yoga adiwinarto, ST M.Sc selaku Direktur Institute for Transportation dan Development policy (ITDP) Indonesia, membahas “Bus Raid Transit Development Around the Woeld


Topik kedua diisi oleh tiga pembicara, di antaranya:


  1.  Prof. Dr. Ir. Mohammad Nasikin, M.Eng selaku Pakar energy dan Guru Besar Universitas Indonesia, membahas “Menyikapi energi baru terbarukan di sector transportasi dalam rangka membangun sustainable transportation”.
  2. Drs. Kris Suyanto selaku Direktur Utama PT. Katama Suryabumi, membahas tentang “Investasiu Infrastruktur Menjadi Asset Dan Sekaligus Menjawab Kebutuhan Pasar Industry”.


Diselenggarakannya acara seminar ini diharapkan mahasiswa lebih mempunyai wawasan yang luas dengan mengundang pembicara berkomitmen. Seminar yang kedua kalinya diselenggrakaan oleh mahasiswa Teknik Sipil ini mampu menghadirkan peserta seminar sebanyak 195 mahasiswa dari 10 Universitas di Indonesia. Seperti yang di ungkapkan Tri Handayani selaku Ketua pelaksana ODYSCE CIVIL EXPO UNJ 2015 “Tahun ini pesertanya lebih banyak, ada 195 mahasiswa dari 10 Universitas, jika tahun lalu ada sekitar 70 orang dengan tema “Sumber daya manusia” namun lebih ke bidang sipilnya” ungkapnya. “Ini acara turun temurun yang diselenggarakan, jadi diharapkan tahun depan lebih banyak lagi pesertanya dengan tempat yang lebih memadai” tambahnya kembali saat di temuai usai acara seminar. 

Oleh Tri Setiawati 
Fotografer:  Awita Ekasari Larasati 

Sabtu, 27 Juni 2015

Indonesia Technopreneur Career Bersama KompasKarier.com

Indonesia Technopreneur Career Bersama KompasKarier.com



JAKARTA, Kompaskarier.com kembali mengadakan pameran bursa kerja tahunan terbesar berskala Nasional yaitu KompasKarier.com Fair (KKF) 2015 di beberapa kampus dan ballroom di beberapa kota besar Indonesia.

KompasKarier.com sebagai salah satu unit bisnis dari Kompas.com dan berada di bawah naungan Kompas Gramedia Group, bergerak di bidang pelayanan media digital, platform pencarian kerja, dan content, terus berupaya mengembangkan  dan menjadikan KompasKarier.com (KKF) sebagai event yang berkualitas dan nomor satu untuk kategori pameran bursa kerja skala nasional.

10-11 Juni 2015 bertempat di Ballroom Kuningan City, Indonesia Techno Career diselenggarakan dengan diikuti kurang lebih 50 (lima puluh) perusahaan yang bergerak pada bidang Teknologi dan Informasi (TI). Bursa kerja ini diselenggarakan pertama kali di Indonesia, yakni hanya menghadirkan lowongan pada bidang Teknologi dan Informatika saja sesuai dengan namanya. Indonesia Techno Career terselenggara atas kerja sama Kompaskarier.com dengan Bina Nusantara Computer Club (BNCC). Indonesia Techno Career secara resmi dibuka oleh Ibu Naomi Naibaho , Project Manager KompasKarier.com dan Jemmy Tezzen, perwakilan dari BNCC. Diharapakan acara ini dapat menjadi jembatan atau mediator bagi pencari kerja dengan perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi dan Informasi maupun perusahan yang bukan di bidang ini tetapi membuka lowongan di dunia Teknologi dan Informasi.  Dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini yakni globalisasi maka minat dan antusias dibidang teknologi tahun ke tahun sangatlah banyak lulusannya, sehingga kompaskarier.com dengan platform pencarian kerja perlu ambil bagian dengan menggandeng BNCC untuk menyelenggarakan kegiatan ini.

Seperti roaadshow-roadshow sebelumnya bentuk job expo yang dihadirkan oleh KompasKarier.com adalah berupa digital, dimana para pencari kerja dimudahkan dengan tidak perlunya membawa CV dalam bentuk hard copy, sistem ini turut memudahkan perusahaan dalam melakukan proses penyaringan sehingga mereka dapat menemukan tenaga kerja yang diinginkan secara lebih spesifik dan efisien.

Selama event berlangsung, Kompaskarier.com dan BNCC secara khusus menghadirkan beberapa pembicara untuk menambah informasi bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya pada bidang IT.



Untuk informasi selengkapnya hubungi:
Marcomm Kompas.com                                                        Info Hotline KompasKarier.com
Email                   : diva.yowanda@kompaskarier.com          Email              : cs@kompaskarier.com
Telepon               : 081219997588                                          Telepon          : 021- 31 722 711    
   

Website: www.kompaskarier.com

Rabu, 09 April 2014

196 Surat Suara Menumpuk di TPS Mekarjaya



google.com


Kertas suara pemilihan legislatif tingkat pusat atau DPR-RI terdistribusi sebanyak 427 buah ke TPS 3, Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Sukmajaya, Depok, Rabu (9/4). Dari 427 kertas suara, hanya sebagian yang dipakai untuk mencoblos, yaitu 231 buah. Banyak hal yang menyebabkan kertas suara banyak tersisa, salah satunya adalah golput.

            “Banyaknya kertas suara yang tersisa tidak semuanya dikarenakan pencoblos memilih golput, akan tetapi banyak dari mereka yang sudah pindah rumah,” ujar Agung Sabana, saksi dari PKS, TPS 3.

            Selain kertas suara yang masih banyak tersisa, suasana pemilihan legislatif di TPS 3 ini cenderung tidak terlalu padat oleh warga yang ingin mencoblos. Mereka tidak perlu menunggu dan mengantri terlalu lama untuk mendapatkan empat kertas suara dan masuk ke bilik. Akan tetapi, banyak di antara warga yang mengaku tidak mengerti karena kurangnya sosialisasi mengenai pemilihan ini.

            “Iya, banyak yang tidak mengerti dan merasa bingung ketika membuka kertas suara. Terlalu banyak partai dan nama calon legislatif yang tidak dikenal. Ibu-ibu di sebelah saya saja bilang mau nyontek pas nyoblos.” Ujar Upi disertai tawa.

            Selain warga, panitia, dan saksi, hadir pula seorang relawan dari Panwaslu yang melihat dan mengawasi jalannya pemilihan ini. Relawan ini bertugas merekapitulasi hasil jalannya pemilihan legislatif di beberapa TPS di daerah Depok dan akan melaporkannya ke pusat.

            “Pemilihan legislatif di TPS 3 ini kerjasama antar panitia sudah cukup baik. Mungkin karena kurangnya pengalaman dan sosialisasi yang membuat perhitungan sedikit lama dan terlihat kurang terkoordinasi dengan baik,” ujar Dede, saksi dari PDIP. 


Teks: Yasmin Shafiyyah

Jumat, 18 Oktober 2013

GIVING PNJ, PERSEMBAHAN DARI MAHASISWA UNTUK KAMPUS TERCINTA





Tepat satu bulan yang lalu (26 September 2013), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sukses meluluskan 1.500 mahasiswa tahun 2013, bertempat di Balairung Universitas Indonesia. Namun, ada yang berbeda dengan pelaksanaan wisuda tahun ini. Kali ini, wisudawan/wati tidak hanya menjadikan wisuda sebagai ajang perayaan kelulusan, tetapi juga memberi wujud nyata kepedulian kepada kampus tercinta dalam program Giving PNJ.

Program Giving PNJ pertama kalinya digagas oleh Agus Budiyanto selaku ketua umum BEM PNJ periode 2012-2013. Awal mula terbentuknya program ini sendiri berasal dari kejenuhan penantian janji perbaikan fasilitas ibadah Masjid Darul Ilmi (Daim), masjid Politeknik Negeri Jakarta, yang sudah tidak layak. Menurut Budi, pihak kampus sendiri tidak dapat memberi kepastian kapan akan melakukan renovasi menyeluruh. Pemerintah pun tidak menyiapkan anggaran pembangunan atau perbaikan khusus fasilitas ibadah.  

“Sebenarnya kami bosan karena tidak ada perbaikan dari dulu. Saya berpikir untuk menggunakan momen wisuda sebagai ajang kepedulian yang kemudian kami namakan Giving PNJ. Sederhana aja. setidaknya minimal satu orang menyumbangkan sepuluh ribu pada praktiknya,” ujarnya.

Menurut Budi, dari jumlah wisudawan yang mencapai angka 1500 itu saja, bila dikalikan Rp10.000 sumbangan sudah bisa mencapai Rp15.000.000. “Sebagai bentuk realisasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pengabdian pada Masyarakat. Maka sangat dipertanyakan jika lulusan-lulusan PNJ tidak meninggalkan apa-apa bagi bagi kampusnya. Kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk kampus kita setelah 3-4 tahun kita keliah di PNJ?” tambahnya.   

Masjid yang berdiri dari hasil swadaya masyarakat ini memang jelas nampak kerusakannya. Bentuk bangunan yang terbuka membuat tempias air hujan masuk ke dalam masjid. Belum lagi genangan di sekitar masjid. Di tempat wudhu, baik pria dan wanita, air keran untuk besuci tidak mengalir cukup bahkan sering mati. Toilet pria pun sering mampet, begitu pula dengan toilet wanita sama memprihatinkannya. Dengan jumlah mahasiswa yang banyak, jama’ah sholat jumat di Masjid Daim pun sampai tumpah ruah hingga ke luar pagar masjid serta selasar jalan. Walau begitu keadaanya, Masjid Daim tetap menjadi primadona bagi umatnya.  

Ternyata, gagasan sang Domisioner ketua Badan Eksekutif Mahasiswa PNJ ini pun diterima baik oleh sesama wisudawan hingga civitas PNJ. Bahkan, para alumni pun turut memudahkan program Giving PNJ ini selama dalam proses kegiatan. Banyak beberapa alumni yang membatu secara khusus keberhasilan ini, seperti Adhi Indra mahasiswa Jurusan Teknik Grafika Penerbitan membebaskan seluruh biaya cetak buletin terkait Giving PNJ sebanyak seribu eksemplar serta amplop sumbangan. Tak hanya Adhi, Dewo dari mahasiswa Teknik Elektro turut membantu menyiapkan promosi di YouTube dengan membuat montion graphic. Kerja sama yang baik ini membuahkan hasil yang luar biasa.

Dengan bantuan sosial media untuk memperkenalkan Giving PNJ ini, sekejap respon baik diterima. Kemudian setelah perkenalan melalui sosial media, Budi pun turut mengadakan briefing dengan semua wisudawan untuk lebih menyukseskan program. Karena saat briefing tersebut tidak semua wisudawan yang hadir, maka pada gladi bersih wisuda publikasi lebih digencarkan, yaitu pemberian penjelasan tentang program Giving PNJ sendiri kepada seluruh wisudawan.

Dalam praktiknya, pelaksanaan pengumpulan dana terbilang sederhana. “Kami memberikan amplop untuk mereka isi dan diserahkan saat wisuda,” terang Budi.

Walau masih terkendala dalam pengumpulan amplop yang tertinggal, seluruh kegiatan acara pada wisuda kemarin berjalan lancer. terkumpul dana sekitar 12.500.000,- dalam sehari. Bagi peserta yang belum sempat menyerahkan sumbangan atau pihak lain yang ingin menyumbang, panitia pun masih menyediakan kotak Giving PNJ di gedung Direktorat PNJ.

Giving PNJ, sebuah persembahan dari mahasiswa kepada kampus tercinta agar fasilitas dapat terbenahi lebih baik. Sebuah niat mulia ini memang patut diacungkan jempol. Setelah kegiatan ini, Budi berharap agar Giving PNJ dapat menjadi sentilan bagi para petinggi kampus agar mau berbuat mandiri lebih dari mahasiswanya. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut terus-menerus. “Kita bisa bayangkan 5-10 tahun ke depan PNJ akan makin baik fasilitasnya. Bukan tidak mungkin semua fasilitas yang ada di kampus ini bisa kita perbaiki dengan tangan kita sendiri,” tutupnya.




 Teks: Bunga Padma Putri & Deasy Amalia
 Foro: Dok. Giving PNJ