Sabtu, 01 Juni 2013

Sosok Pemimpin Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Agus Budianto




Agus Budiyanto. Siapa tak kenal mahasiswa Jurusan Akuntansi kelahiran 3 Agustus 1992 ini? Pria Jawa yang menjelma menjadi sosok Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ini ternyata punya hal menarik untuk ditelisik. Mulai dari Budi kecil ‘jail’ hingga perjalanan panjang mencari jati diri tentang sebuah arti yang mengantarkannya memangku jabatan sebagai pemimpin para mahasiswa.

Putra pertama pasangan Haryanto dan Fatikah yang lahir di Tegal hampir 21 tahun lalu ini ternyata punya kebiasaan jail semasa kanak-kanak. Budi – begitu ia disapa – pernah suatu hari melukai matanya sendiri karena petasan yang ia pasang di dalam selokan tak kunjung meledak, petasaan tersebut baru meledak ketika ia melongok ke dalam selokan. Dia juga pernah berurusan dengan pemuda yang tengah bermain karambol hingga mendapat pukulan karena ternyata salah satu pemuda tersebut sedang mabuk. Kakak dari Diantika Putri ini juga pernah merubuhkan susunan piramida jeruk di pasar, karena jeruk bagian bawah sebagai pondasi ia tarik ketika menemani ibunya yang tengah berbelanja.

Budi kecil yang tumbuh menjadi remaja tanggung pun tak luput dari kenakalan remaja, pernah bergaul dengan lingkungan yang kurang tepat, namun beruntung hal itu tidak berpengaruh terhadap nilai akademiknya terbukti ia mampu masuk ke sekolah menengah favorit SMA 2 Cibinong.

Semasa SMA, ia menemukan kelompok pertemanan baru yang membawanya menjadi salah satu personil BAH Band (Burn After Hear Band) menjadi penabuh drum, loncat ke vocalis, hingga menjadi gitaris. Popularitas Bah Band terbukti dengan berbagai prestasi dan lagu mereka yang menjadi hits dikalangan remaja, terutama single dengan lirik berbahasa inggris yang diciptakan Budi. Kesuksesannya bersama Bah Band ternyata membuat kehadirannya dirindukan teman – teman  lama, hingga akhirnya terjadi perkelahian yang menyebabkan tangan kanannya terluka karena salah memukul tembok dan akhirnya ia kesulitan untuk mengepalkan tangannya hingga kini.

Budi yang ternyata seorang ketua kelas sewaktu kelas X SMA ini pernah mengalami hal paling memalukan ketika ia dipecat dihadapan teman – temaannya dan digantikan begitu saja dengan siswa lain, bukan hanya itu Budi yang awal di juruskan ke IPS bersikukuh bahwa ia mampu menjadi anak jurusan IPA, Kegigihannya membawa ia berani menyambangi kepala sekolah dan mengajukan argumentasi bahwa ia mampu untuk mengikuti program belajar IPA. Hal ini ternyata tak sia – sia ia berhasil mendapat jurusan IPA keinginannya.

Lama berselang hingga di akhir masa SMA ia harus bersiap menghadapi ujian Saringan Nasional Masuk Perguran Tinggi Negeri (SNMPTN) . Budi yang mengambil les tambahan di Nurul Fikri dan mengikuti SNMPTN itu awal mengincar Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Politik namun sayang setelah melakukan empat kali tes usahanya tak membuahkan hasil yang ternyata hal tersebut mampu membuatnya menangis dipangkuan ibunya. “Bagaimana bisa ia yang sudah berusaha lebih tidak diterima, sedang seorang teman lainnya yang terkesan tidak niat dapat menembus PTN sesuai pilihannya”. pikir Budi.

Sampai akhirnya sang ibu memintanya agar mengikuti Ujian Masuk Politeknik Negeri Jakarta (UMPN) dan memilih jurusan akuntansi yang tentu berbeda dengan jurusannya sewaktu SMA. Menuruti saran sang ibu dan mendapat pencerahan dari guru lesnya, ia pun mencoba UMPN, dan berhasil diterima dengan perjuangan yang tak mudah tentunya.

PNJ Berbudi
Tak ada yang tahu akan jadi seperti apa pria yang memiliki motto hidup ‘Biar urakan, sholat tetap tak tertinggalkan’ ini. Berbekal kisah seorang teman yang sukses berkuliah di PNJ awalnya Budi hanya bermimpi agar ia bisa pergi ke berbagai daerah secara gratis, dan fotonya terpampang di baliho kampus, tapi siapa yang menduga bahwa ia mampu mendapatkan lebih.

Budi yang mencoba peruntungan menjadi panitia Pemilihan Raya (Pemira) 2011 sepertinya mulai menemukan jalannya. Menjadi panitia dibeberapa kegiatan ia lakoni hingga mimpinya yang pertama tercapi. Sekjen FKMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik Se-Indonesia) PNJ tertarik pada semangat Budi, dan mengajaknya untuk mengikuti Munas FKMPI di luar daerah, sampai pada pencalonan dirinya menjadi ketua BEM 2012 pun mewujudkan mimpinya yang ke dua bukan hanya potongan foto berukuran kecil yang ada di baliho kampus namun satu baliho penuh itu adalah miliknya sendiri. Kini entah sudah berapa kali ia ke luar kota dan ada berapa baliho yang memajang fotonya dibarisan awal, yang pasti hampir semua mimpinya telah terwujud.

Menjadi seorang ketua BEM mungkin bukan hal yang dapat diprediksi budi, menang telak dari lawannya membuat popularitas Budi semakin meroket, jadi wajar saja banyak mahasiswi yang mengelukan namanya. Selama meangku jabatan menjadi ketua BEM ia berhasil melakukan lobi politik diantara membawa turun Johan Budi S.P menemui mahasiswa untuk memberikan keterangan. Ditanya strategi keberhasilan membujuk juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut ia hanya menjawab “Saya ga ada strategi yang gimana – gimana ya intinya komunikasi lah” .

Penyelenggaraan Dies Natalies – perayaan HUT PNJ – adalah salah satu buah percobaan Budi bersama rekannya di BEM Adhi Indra Kusuma jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Ramai dan selalu meriah para mahasiswa mengenakan jakun dan bekeliling kesetiap jurusan hingga berhenti di lapangan utama untuk mendengarkan orasi ketua BEM, dan MPM serta mendengarkan hak jawab Direktur PNJ terhadap tuntutan mahasiswa, sayangnya Budi masih merasa ada yang kurang dari hiruk pikuk perayaan tersebut “Sayangnya dalam Dies Natalies mereka hanya sekedar korban semangat aja, setelah itu lupa.” kegiatan ini diwujudkan Budi dan rekannya bertujuaan agar para mahasiswa mencintai dan bangga terhadap kampus mereka sendiri.

Budi juga berpendapat sebagai mahasiswa agar kita dapat bermanfaat bagi lingkungan masyarakat adalah, kita harus memanfaatkan sarana yang ada di kampus, dan adapun sarana yang dimaksud adalah berbagai Lembaga Formal Kemahasiswaan seperti MPM, BEM, HMJ, dll dengan itu semua kita ibarat punya banyak tangan karena kita mampu melakukan banyak hal, kita bisa membuat desa binaan, melakukan kontrol terhadap pemerintah, membuat pergerakan, menggalang dana, dan menambah wawasan dengan kajian. Sekedar ikut kepanitiaan itu juga termasuk bentuk aktualisasi kita –Mahasiswa– untuk bermanfaat.

Ia menambahkan karena setiap orang memiliki passion tersendiri, dan tiap orang memiliki jalur kebermanfaatannya masing – masing, yang terpenting mahasiswa harus menggunakan fungsi yang tersemat dalam diri mereka. Bukan hanya sekedar berkuliah lalu pulang, yang sebenarnya memberi pengajaran lebih adalah di ‘jalan juang’ semuanya memang butuh pengorbanan, mahasiswa harus berani berkorban jangan egois dan itulah ‘totalitas perjuangan’.

Budi tidak bisa dikatakan baru dalam jalur perjuangan, sejak dulu ia terbilang aktif dan memiliki banyak kegiatan jadi jangan salah berpikir bahwa sikapnya selama ini adalah efek atau sekedar citra seorang ketua BEM, ia selalu berpesan kepada rekannya di BEM bahwa sebagai pemuda kita memiliki pedang samurai yang bisa kita gunakan untuk apa saja, lalu kenapa kita tidak memanfaatkan sampai ke titik maksimal bukan hanya untuk sekedar memotong bawang. Jangan pula ditanya soal identitasnya walau dulu begitu mendamba UI, dan IPB tapi kesetiaannya telah terbukiti perjuangan dan loyalitasna menjadi ketua BEM hingga medekati akhir masa jabatannya tak pernah ia sia – sia kan walau sibuk menyusun TA (Tugas Akhir) ia masih sibuk mengurusi dana kemasiswaan yang mandek, mengajak rekan lainnya mengusut langsung ke kementrian terkait, serta melakukan aksi dalam rangkan 15 tahun Reformasi.

Hingga di akhir sesi tanya jawab GEMA dengan Agus Budiyanto, ia memiliki pendapat lain tentang mahasiswa pasif “It’s their own choice. Mungkin mereka punya cara sendiri, yang jadi masalah, apakah mereka sudah terlalu nyaman dengan ini semua? Apakah mereka terlalu egois dengan memikirkan kehidupannya saja? Saya sih ENGGAK! Dan mudah – mudahan mereka juga enggak” tuturnya singkat.

Budi yang akan mengakhiri masa jabatannya ini memang belum sepenuhnya menuntaskan mimpinya untuk PNJ. Akankah misi ini akan mampu diteruskan dengan pemimpin mahasiswa yang baru? Entah tapi apapun itu mari kita dukung, dan tak lupa memberi ucapan selamat bagi pemimpin yang telah berusaha memberikan yang terbaik bagi para civitas PNJ yaitu Agus Budiyanto.



Naskah  : Bunga Padma Putri
Foto        : Dok. Budi

1 comments:

gue akuin diri gue sebagai mahasiswa pasif, tapi gue gak egois mikirin hidup gue sendiri karena setiap orang punya cara masing-masing untuk jadi orang yang berguna buat sesama, ga semata-mata harus jadi mahasiswa aktif kalau mau jadi orang yg berguna bagi sesama. Dan gue respect dengan pandangan Budi, ga semua mahasiswa pasif itu egois, mereka cuma punya cara yang beda dengan kalian-kalian mahasiswa aktif, peace.

Poskan Komentar