Jumat, 18 Oktober 2013

GIVING PNJ, PERSEMBAHAN DARI MAHASISWA UNTUK KAMPUS TERCINTA





Tepat satu bulan yang lalu (26 September 2013), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sukses meluluskan 1.500 mahasiswa tahun 2013, bertempat di Balairung Universitas Indonesia. Namun, ada yang berbeda dengan pelaksanaan wisuda tahun ini. Kali ini, wisudawan/wati tidak hanya menjadikan wisuda sebagai ajang perayaan kelulusan, tetapi juga memberi wujud nyata kepedulian kepada kampus tercinta dalam program Giving PNJ.

Program Giving PNJ pertama kalinya digagas oleh Agus Budiyanto selaku ketua umum BEM PNJ periode 2012-2013. Awal mula terbentuknya program ini sendiri berasal dari kejenuhan penantian janji perbaikan fasilitas ibadah Masjid Darul Ilmi (Daim), masjid Politeknik Negeri Jakarta, yang sudah tidak layak. Menurut Budi, pihak kampus sendiri tidak dapat memberi kepastian kapan akan melakukan renovasi menyeluruh. Pemerintah pun tidak menyiapkan anggaran pembangunan atau perbaikan khusus fasilitas ibadah.  

“Sebenarnya kami bosan karena tidak ada perbaikan dari dulu. Saya berpikir untuk menggunakan momen wisuda sebagai ajang kepedulian yang kemudian kami namakan Giving PNJ. Sederhana aja. setidaknya minimal satu orang menyumbangkan sepuluh ribu pada praktiknya,” ujarnya.

Menurut Budi, dari jumlah wisudawan yang mencapai angka 1500 itu saja, bila dikalikan Rp10.000 sumbangan sudah bisa mencapai Rp15.000.000. “Sebagai bentuk realisasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pengabdian pada Masyarakat. Maka sangat dipertanyakan jika lulusan-lulusan PNJ tidak meninggalkan apa-apa bagi bagi kampusnya. Kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk kampus kita setelah 3-4 tahun kita keliah di PNJ?” tambahnya.   

Masjid yang berdiri dari hasil swadaya masyarakat ini memang jelas nampak kerusakannya. Bentuk bangunan yang terbuka membuat tempias air hujan masuk ke dalam masjid. Belum lagi genangan di sekitar masjid. Di tempat wudhu, baik pria dan wanita, air keran untuk besuci tidak mengalir cukup bahkan sering mati. Toilet pria pun sering mampet, begitu pula dengan toilet wanita sama memprihatinkannya. Dengan jumlah mahasiswa yang banyak, jama’ah sholat jumat di Masjid Daim pun sampai tumpah ruah hingga ke luar pagar masjid serta selasar jalan. Walau begitu keadaanya, Masjid Daim tetap menjadi primadona bagi umatnya.  

Ternyata, gagasan sang Domisioner ketua Badan Eksekutif Mahasiswa PNJ ini pun diterima baik oleh sesama wisudawan hingga civitas PNJ. Bahkan, para alumni pun turut memudahkan program Giving PNJ ini selama dalam proses kegiatan. Banyak beberapa alumni yang membatu secara khusus keberhasilan ini, seperti Adhi Indra mahasiswa Jurusan Teknik Grafika Penerbitan membebaskan seluruh biaya cetak buletin terkait Giving PNJ sebanyak seribu eksemplar serta amplop sumbangan. Tak hanya Adhi, Dewo dari mahasiswa Teknik Elektro turut membantu menyiapkan promosi di YouTube dengan membuat montion graphic. Kerja sama yang baik ini membuahkan hasil yang luar biasa.

Dengan bantuan sosial media untuk memperkenalkan Giving PNJ ini, sekejap respon baik diterima. Kemudian setelah perkenalan melalui sosial media, Budi pun turut mengadakan briefing dengan semua wisudawan untuk lebih menyukseskan program. Karena saat briefing tersebut tidak semua wisudawan yang hadir, maka pada gladi bersih wisuda publikasi lebih digencarkan, yaitu pemberian penjelasan tentang program Giving PNJ sendiri kepada seluruh wisudawan.

Dalam praktiknya, pelaksanaan pengumpulan dana terbilang sederhana. “Kami memberikan amplop untuk mereka isi dan diserahkan saat wisuda,” terang Budi.

Walau masih terkendala dalam pengumpulan amplop yang tertinggal, seluruh kegiatan acara pada wisuda kemarin berjalan lancer. terkumpul dana sekitar 12.500.000,- dalam sehari. Bagi peserta yang belum sempat menyerahkan sumbangan atau pihak lain yang ingin menyumbang, panitia pun masih menyediakan kotak Giving PNJ di gedung Direktorat PNJ.

Giving PNJ, sebuah persembahan dari mahasiswa kepada kampus tercinta agar fasilitas dapat terbenahi lebih baik. Sebuah niat mulia ini memang patut diacungkan jempol. Setelah kegiatan ini, Budi berharap agar Giving PNJ dapat menjadi sentilan bagi para petinggi kampus agar mau berbuat mandiri lebih dari mahasiswanya. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut terus-menerus. “Kita bisa bayangkan 5-10 tahun ke depan PNJ akan makin baik fasilitasnya. Bukan tidak mungkin semua fasilitas yang ada di kampus ini bisa kita perbaiki dengan tangan kita sendiri,” tutupnya.




 Teks: Bunga Padma Putri & Deasy Amalia
 Foro: Dok. Giving PNJ

0 comments:

Poskan Komentar