Jumat, 22 November 2013

STREET LEVITATION: SENI DIUTAMAKAN, MATERI BELAKANGAN




 



Sejak dulu, Kota Tua merupakan tempat wisata sejarah yang sering didatangi wisatawan. Mereka tidak hanya melakukan perjalanan sejarah, melainkan melakukan wisata kuliner yang ada di sentral Jakarta itu. Kini, lingkungan sekitar Kota Tua telah disulap menjadi kawasan seni dari berbagai macam jenis.

Pengunjung dimanjakan dengan atraksi unik di berbagai sudut jalan. Di depan Museum Fatahilah, pengunjung bisa menemui atraksi manusia api dan atraksi menghebohkan lainnya. Tak jarang orang berkerubung untuk mengabadikan foto atraksi unik itu. Bergeser sedikit ke arah kiri Museum Fatahilah, kerumunan semakin banyak. Ternyata ada sebuah atraksi melayang di atas tanah. Mereka menamakan dirinya sebagai Street Human Levitation.

Perhatian penonton langsung menuju ke arah orang yang sedang melakukan aksi uniknya itu. Ia tengah duduk tanpa alas sambil membaca koran. Beberapa menit kemudian, ia langsung berganti posisi dengan mengangkat kedua kakinya sambil melayang di atas tanah. Penonton langsung mendekat untuk mencari tahu.

Adalah Jim, orang yang sedang melakukan aksi tidak biasanya itu. Ia merupakan salah satu penggagas dari adanya Street Human Levitation.

Ternyata, Komunitas Street Human Levitation ini bermula dari the street art. Pada awalnya, ada street art yang bernama humanoid manusia patung yang biasanya ada di Kota Tua juga. Karena terkesan biasa, street human levitation hadir agar penonton bisa tertarik memerhatikan aksi mencenangkannya itu.

“Kita ingin menampilkan sedikit trick dari the street art agar orang lebih suka. Dari terbentuknya Street Human Levitation, munculah crowdeed dan euphoria,” ungkap Jim Akay (29) saat setelah melakukan aksi melayangnya itu.

Jim bersama kedua temannya menjadi penggagas dari ide adanya human levitation ini. Mereka juga yang sering membuat konsep trick untuk street art itu sendiri. Mereka konsisten dalam memberikan hiburan jalanan untuk pengunjung. “Daripada hiburan kurang positif, lebih baik hiburan unik yang bisa berdampak positif juga,” ungkap Jim.

Pertunjukan di panggung tentu berbeda dengan pertunjukkan jalanan. Teknik-teknik dalam pertunjukan yang ada di panggung masih bisa disiasati karena jarak penonton dan atraktor yang jauh. Lain hal dengan pertunjukan jalanan. Jarak antara penonton dan atraktornya bisa hanya dua meter. Karena street art melakukan pertunjukan di jalan, Jim dan kawan-kawan terus mencari celah lubang supaya penonton tetap tidak bisa memahami apa yang sedang mereka lakukan.

Jim sering membawa ide segar untuk komunitasnya ini. Setelah Street Human Levitation ini sudah menjamur di daerah Eropa maupun India, Jim dan teman-temannya membawa hal baru di Indonesia ini. Mereka mengkombain pakaian dengan kostum tokoh Indonesia dan segala hal yang berbau Indonesia.

Pertunjukkan yang tidak jarang menarik perhatian penonton ini baru dilakukan di lingkungan Kota Tua. Kota Tua dipilih menjadi tempat yang tepat sebagai lokasi untuk latihan, berkumpul, dan pertunjukkan. Setiap Jumat-Sabtu-Minggu, pengunjung Kota Tua akan dikejutkan dengan atraksi melayang di atas tanah oleh Street Human Levitation ini. Sampai sekarang, ada empat orang berbeda yang melakukan aksi melayang itu.

Saat melayang di tengah kerumunan, pengunjung tak jarang menemui karakter yang berbeda-beda. Kalau hari Sabtu pengunjung melihat Michael Jackson sedang melayang, hari Minggu pengunjung bisa melihat karakter yang lain lagi. “Kadang kami menggunakan pakaian casual, maupun pakaian kantor. Kalau meniru tokoh, kami sering ambil Michael Jackson dan Pangeran Diponegoro,” ungkapnya.

Ada yang unik dari komunitas ini. Meskipun aksinya kadangkala menyita waktu, Street Human Levitation lebih mengutamakan untuk terus menggali keunikan dari karyanya dibanding memikirkan materi. “Dalam street levitation ini, lebih baik terus gali hal baru dan unik dibanding konsentrasi dengan materi. Nanti uang juga datang sendiri,” katanya. Gelas aqua tempat pengunjung menaruh duit pun tak jarang terisi penuh. Menurut Jim, kalau ada ide yang beda, maka orang bakal datang dan mencarinya dengan sendiri.

Penghasilan dalam sehari tidak terlalu dikalkulasikan oleh Jim dan kawan-kawan. “Sebenarnya nominal habis untuk materi sendiri, seperti makan, beli rokok,  dan lain-lain,” akunya.

Selama membuat kehebohan dengan aksinya yang tidak biasa itu, Jim dan kawan-kawan turut senang
bisa menghibur. Ia juga turut senang bisa berbuat sesuatu untuk ikut turut meramaikan Kota Tua agar masyarakat senang mengunjungi distrik sejarah Kota Jakarta itu. Dari situ, ia bisa melatih mentalitas untuk berinteraksi dengan audience. “Saya juga bisa lebih tau tentang karakter audience dari berbagai segmen,” ungkapnya.

Namun, ia masih memiliki tantangan pribadi dalam setiap aksinya, yakni interaksi dari penonton dan mental. “Kadang, teman sendiri sampai tidak mengenali saya,” ungkap Jim. 

Untuk ke depan, Jim masih terus berusaha memikirkan ide yang tidak terbayangkan orang lain. Ia pun turut berharap agar pusat wisata kota Jakarta itu terus diramaikan oleh pengunjung. “Kalau saya berharap Kota Tua ini sendiri lebih banyak yang datang. Euphoria ada, liburan murah, dan tidak komersil juga,” tutupnya.


 
Deasy Amalia
Dok. SHL

1 comments:

Komunitas ini ada twitter nya gak?

Poskan Komentar