Kamis, 18 April 2013

Dear, Aniki


“Sy, kau tahu tidak? Kak Avin baru saja mengundangku makan malam di rumahnya!!! Menurutmu apa maksud dibalik itu?”

“Serius? Ah kau sangat beruntung, Di. Hmm, menurut artikel yang pernah aku baca, ada kemungkinan dia akan sangat serius sama kau! Mungkin saja dia ingin memperkenalkanmu ke kedua orang tuanya! Aiiih, itu berita yang sangat bagus. Kapan harinya?”

“Hmm, akhir pekan minggu ini, Sy. Aku masih tidak percaya atas ajakan Kak Avin tadi pagi…” kedua bola mata Dinari berbinar-binar. Ada raut kebahagiaan luar biasa terpancar dari sana. Aku turut bahagia. “Oh iya, lalu bagaimana hubunganmu dengan Kak Feji? Ada kemajuankah?”

Perlahan-lahan dapat dipastikan Dinari melihat perubahan raut wajahku.  “Ya, seperti biasanya,” jawabku seperlunya, mencoba tetap tersenyum walau mungkin terlihat sangat kecut.

“Kau yakin? Hey, Sy! Sudah berapa lama kita bersahabat? Aku mengenalmu. Cerita padaku kalau ada masalah…” Dinari menggeser posisi duduknya mendekat ke arahku.

“Entahlah, Di. Mungkin aku sudah sangat jenuh. Aku tidak mundur, tapi majupun juga tidak. Aku dan dia hanya diam di tempat…”

“Tanpa kepastian pula!” sahutnya memotong pembicaraanku. Aku menggigit bibir bawahku, sedikit lebih keras. Kupikir itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit di dalam dadaku. “Kau akan bertahan sampai kapan? Kalau dia tidak mau memulai, berarti kau yang harus memulai, Sy. Batu dan batu kalau sama-sama diam, jelas tidak akan ada yang maju kan?”

Aku tertegun. Berkali-kali Dinari menasihatiku dengan berbagai kalimat-kalimat yang justru hanya semakin membuat aku bimbang. ‘Ada hal lain, Di. Fakta lain yang baru saja terungkap. Aku ingin menceritakan ini padamu, tapi kau tampak sangat bahagia hari ini. Aku tidak ingin merusaknya,’ desisku dalam hati. “Aku nggak tahu, Di…” ucapku, menatap Dinari yang sedang menajamkan sorot matanya ke arahku.

“Entah kau ini bodoh atau nggak, Sy. Tapi satu yang pasti, kau adalah orang pertama yang aku kenal, yang bisa bertahan sama perasaanmu selama ini. Ya, aku akui kau cukup hebat. Tapi kau tetap saja bodoh kalau tidak mau bergerak maju!”

“Kau tidak bisa menjamin dia juga punya perasaan yang sama denganku kan, Di? Aku dan dia diikat perasaan sepihak, Di. Aku yang mengikatnya, aku yang terikat sama perasaanku sendiri, tapi perasaan dia bebas, bukan untukku, pasti…”

“Kau terlalu berpikiran negatif, Sy!”

“Aku rasa itu fakta…” aku menghela napas panjang. Sebentar memandang wajah Dinari kemudian menerawangkan pandanganku ke arah langit dan kembali menghela napas. Sekilas teringat jelas kata-kata yang aku tulis rapih di dalam buku catatan harianku tadi malam, tentang Kak Feji.



***

18 Maret 2001

Halo, fighter! Masih berjuang di hati yang sama? Apa masih akan tetap berjuang setelah tahu hal ini? Well, hari ini aku mendapat kabar yang tidak cukup baik. Ternyata aku bukan adik satu-satunya Ji. Baru saja dia cerita bahwa dia punya adik lain, di kota lain pula yang cukup jauh dari sini. Ya, dia pernah cerita sebelumnya kalau dia punya banyak adik. Tapi aku mencoba mengacuhkannya, berharap dia hanya bergurau belaka. Namun, hari ini smsanku dengannya dimadu dengan adik lainnya ahahaha kau kenapa, Sy? Kau hanya adiknya, kenapa menggunakan bahasa dimadu? Kau terlalu menyayanginya ya? Entah… sebelumnya dia juga cerita, tentang adik lainnya di masa lalu. Katanya mereka saling suka tapi entah bagaimana kelanjutannya. Dia tidak menceritakannya terperinci lebih jelas. Dari kejadian itu, aku menarik kesimpulan menakutkan. Ya, aku takut dia punya adik-adik lain lebih dari aku dan si adik yang hari ini dia ceritakan. Dan entah adik mana yang ada dihatinya. Entah adik mana yang bisa meluluhkan hatinya. Entah adik mana yang bisa membuatnya nyaman, seperti dia yang bisa membuatku amat sangat nyaman. Ya, nyaman dan tidak mau kehilangan. Aku tahu, aku bukan adik satu-satunya. Ada banyak kemungkinan dan apakah ini bisa memaksaku menyerah atas perasaanku yang dari awal aku sadari salah? Apa setelah ini aku trauma menjadi adik orang lain? Trauma untuk menempatkan perasaan, takut salah bertahan seperti saat ini?

***

Aku hempaskan peraduanku di senja yang entah mengapa begitu meronakan langit sore ini. Pikiranku bermain-main, menelaah tentang apa yang disebut takdir dan jodoh. Bila bisa sampai bertahan sejauh ini namun faktanya hati tidak terpaut, mungkin ini yang namanya takdir.

Menjadi sebuah hal saat apa yang kita harapkan ternyata menjadi harapan orang lain. Ah, sepenggal bait lagu cinta pertama dan terakhir milik sherina terbesit dalam penggalauanku.

Sebelumnya ku ikat hatiku
Hanya untuk aku seorang
Sekarang kau di sini hilang rasanya
Semua bimbang tangis kesepian

Aku ingat sebuah cerita masa lalu yang sebenarnya enggan aku hadirkan kembali. Tentang sebuah rasa dimana adanya peninggalan bekas yang begitu mendalam sehingga membuatku takut untuk kembali memulai hal yang sama. Tentang cinta, tentang kasih sayang, tentang pengkhianatan dan tentang luka. Aku hanya terlanjur terlalu berbagi, tanpa kejelasan. Namun ketika kejelasan status itu meminta, firasat memaksaku untuk mengacuhkannya. Peraduan antara keinginan dan kenyataan membuatku terhempas begitu jauh. Alhasil, kisah masa laluku menemui masa depannya dan aku terkesan menyakiti diriku sendiri. Dia hanya suka bermain-main dengan perasaan pasangannya.

Traumaku mengalir, menjalar menyusun kepribadian baru. Namun entah takdir Tuhan macam apa, perasaanku kembali diketuk oleh orang lain. Dia kakakku. Ya, kakak yang merupakan teman sebayaku. Tanpa kompromi, kenyamanan dengannya mengalir, menepikan traumaku karena kisah suram masa laluku. Sebulan, tiga bulan, setahun, satu tahun delapan bulan, hingga kini berusia dua tahun tujuh bulan kenyamanan bersamanya seperti menggunung. Aku meragu, namun perasaanku tampak begitu nyata. Dan aku kembali meragu, apakah seluruh nama dan bayangnya dalam thalamusku berujung menjadi solid di depan retinaku? Menjadi utuh? Menjadi tampak sangat jelas dan enggan aku buyarkan kembali karena aku belum siap dan entah akan menjadi siap seperti apa tanpa dia.

Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini
Aku tak mengerti
Akankah sama jadinya
Bila bukan kamu
Lalu senyummu menyadarkanku
Kau cinta pertama dan terakhirku

***

“Sy, kekuatanku runtuh…”

“Kau kenapa, Di?”

“Aku merasakan adanya ketidakcocokan antara aku dan Kak Avin setelah semakin sering aku berbincang dengannya.”

“Lalu undangan makan malam waktu itu? Jadi kan?”

“Ah, aku membatalkannya dengan alasan aku sibuk. Tidak, tidak, kau tahu kita sangat sibuk dengan tugas-tugas kita sebulan belakangan ini bukan? Dan, aku menjadikan itu sebagai alasannya. Aku rasa, undangan waktu itu tidak ada maksud terselubung seperti katamu. Faktanya, hatinya masih untuk mantan kekasihnya, Sy…”

Aku terdiam mendengar ucapan panjang lebar dari Dinari. ‘Entah, Di. Aku pun tidak pernah mengerti jalan pikiran laki-laki…’ ujarku dalam hati. “Lalu kau akan berbuat apa?” tanyaku datar.

“Mungkin aku akan menyerah, sebelum perasaan ini jatuh terlalu jauh…”

“Ya, kau benar. Mungkin aku juga akan menyerah, Di…”

“Hey, kau ada masalah apa lagi dengan Ji???” seru Dinari sambil membesarkan kedua matanya ke arahku yang hanya mampu menatapnya sendu.

***

Dinari masih terus memujiku hebat dapat bertahan dengan perasaan tanpa kejelasan sejauh ini. Ya, mungkin dampak traumatik akan masa lalu berhasil membuatku takut memulai. Aku telah mencoba dengan berkata jujur kepadanya. Namun satu hal yang aku pahami, jujur tidak sama dengan meminta, bukan? Kami tetap berbincang seperti biasa, entah bagaimana aku di matanya. Aku tidak pernah tahu dia memandangku dengan sudut pandang seperti apa.

Aku mengacuhkan pendapat Dinari. Dua tahun tujuh bulan hanya waktu yang sebentar jika sudut pandangnya berorientasi pada masa depan. Meski pada kenyataannya, waktu selama itu cukup banyak menimbun kenangan-kenangan yang sulit jika harus dihempaskan dan dikalahkan oleh takdir dan jodoh.

Kami tetap seperti biasa. Biasa seperti selama ini kami pernah kenal. Tidak ada kemajuan, tidak ada kemunduran pula. Dua hal tersebut menimbulkan rasa takutnya sendiri. Ya, aku takut untuk maju, takut belum cukup siap menerima kenyataan. Namun aku juga takut untuk mundur disaat kenyamanan bersamanya selama ini menimbulkan dampak yang luar biasa. Terlebih aku bukan orang yang bisa luwes cerita dan membuat lelucon dengan orang lain meski hubungan kami dekat. Ya, bersamanya aku bisa jadi diriku sendiri. Bersamanya aku bisa nyaman untuk saling berbagi.

Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
Karena senyummu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirku

Setetes air mata mengalir, menggoda untuk mengalir lebih banyak lagi diiringi lagu cinta pertama dan terakhir milik sherina yang sedang mengalun lewat playlist handphoneku. Mataku membusuk perlahan karena air mataku sendiri. Sorot mataku tajam menatap langit sore ini. Senja perlahan hadir, mengingatkanku pada senja liburanku saat itu. Ketika rindu meluluhlantakkan pertahananku. Aku masih tetap terduduk ditempat seolah menikmati keadaan ini. Kembali hatiku meragu, namun logikaku pun turut berputar seiring bergejolaknya gemuruh dalam hati ini.

Aku ingat senja di sudut pantai Yogyakarta saat itu. Namamu hadir, hembuskan sejuk dan hangat bersama ombak di pesisir. Pijakku di atas pasir putih melebur dalam rindu. Jarakmu dekatkanku pada langit memerah. Bersemu malu. Menatapku dengan relung hati merindu paling dalam. Buah tangan itu telah aku sisihkan. Untuk kamu yang selalu merona saat senja mulai menyapa. Hembus napasku untuk kesekian kalinya. Ada kamu di sana. Namun aku terlalu lemah. Kekuatan pijakanku membawaku untuk menimbun buah tangan untukmu. Biar senja yang tahu… Dan namamu akan selamanya jadi doa untukku. Semoga suatu saat kau menyadari, doa untukmu dan rindu untukmu yang mungkin sudah melebam saat itu.. Tertanda, adik tanpa ikatan darah pengakuanmu, pengakuan kita.

***



Dikirim Oleh: Chaisa Chairunnisa
Teknik Grafika Penerbitan, Desain Grafis 4B

0 comments:

Poskan Komentar