Selasa, 03 November 2015

PUISI: Merenggut Kebahagiaan


Pagi ini, aku duduk di sebuah stasiun kereta api, memandangi sekitar
Segerombolan manusia datang dari satu arah dengan tergesa-gesa
Tak ada senyum simpul di raut wajah mereka
Hanya ada ketakutan dalam hati

Apa yang membuat mereka takut?
Takut tertinggal transportasi massal?
Atau takut dimarahi sang penguasa saat melewati jam seharusnya?
Ya, mereka takut kedua-duanya

Bunyi kereta datang dari arah utara
Mereka berlarian masuk ke atas tempat ruang menunggu
Berbondong-bondong masuk ke dalam sebuah besi yang menamakan dirinya kereta
Aliran air menyucur deras dari kulit mereka, membasahi kerah kemeja berwarna putih

Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka
Melakukan rutinitas yang mereka tak suka
Mempertahankan hingga ribuan tahun
Seolah tak ada pintu dalam ruangan tertutup

Tak ada bahagia dalam hidup
Tak ada ceria dalam emosi
Tak ada senyum dalam wajah
Selalu hidup dalam tekanan

Aku merenung
Aku berfikir
Apakah kau mau menukar kebahagiaan dengan segenggam uang?
Hidup terlalu singkat untuk melakukan apa yang tak kau suka

 Oleh Abdurrahman Naufal