Sabtu, 15 Oktober 2011

Hadapi dengan Senyuman (cerpen)

Hadapi dengan Senyuman

Setiap orang pasti mempunyai cobaan dan masalah dalam hidupnya. Bahkan ada orang yang tak bisa menghadapi masalahnya karena begitu besar masalah yang dihadapinya. Seharusnya setiap orang bisa menghadapi segala cobaan dan masalah yang Tuhan berikan dengan sabar dan tabah, tetapi sering kali mengeluh dan merasa tak bahagia karena masalah dalam hidup ini. Tak pernah mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Merasa hidupnya itu menyedihkan dan tak bahagia.
Aku memandang awan gelap di atas sana, segelap hatiku saat ini. Aku termangu memandangnya dengan tatapan kosong. Masalah dalam hidupku datang bertubi-tubi seakan tak ada habisnya. Aku merasa hidup ini tak berarti dan tak bahagia. Aku tak kuat menjalaninya lagi. Sampai kapan aku seperti ini terus? Sampai kapan aku merasa tak bahagia seperti ini? Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan?
Aku berjalan gontai menelusuri trotoar di tepi jalan. Aku menatap sebuah taman yang berada tidak begitu jauh dari tempatku berdiri. Taman itu sepi. Tak ada seorang pun di sana. Aku melangkah menuju taman itu. Aku ingin menenangkan hati dan pikiran.
Aku salah. Ternyata di taman itu ada seseorang. Seorang laki-laki seusiaku yang duduk di atas kursi roda. Aku heran, mengapa dia berada di taman sepi ini sendirian? Apa dia sepertiku, merasa tak bahagia?
Tiba-tiba aku melihat laki-laki itu kesakitan. Dia memegangi dadanya terus. Aku juga dapat melihat, sebuah cairan berwarna merah keluar dari mulutnya. Dia terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah itu. Aku panik melihatnya. Aku harus menolongnya, karena di tempat ini tak ada siapa-siapa lagi.
"Hey, kamu kenapa?" tanyaku panik.
"To…long ba...wa a...ku ke...sana," katanya terbata-bata sambil menunjuk sebuah bangunan bertingkat yang tak jauh dari taman itu.
"Baiklah," aku segera mendorong kursi rodanya menuju bangunan yang ditunjuknya tadi. Itu adalah bangunan rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, suster langsung membawanya ke ruang UGD. Aku hanya bisa menunggu di depan ruang UGD. Aku takut dan cemas. Tapi kok aku takut dan cemas gini, ya? Padahal aku tak mengenalnya. Apa karena rasa kasihan saja? Atau...ada yang lain?
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang UGD. Aku segera mendatanginya.
"Bagaimana dia, Dok? Dia tidak apa-apa kan?" tanyaku cemas.
"Dia tidak apa-apa. Untung kamu membawanya tepat waktu. Kalau tidak, mungkin dia tidak bisa tertolong. Terima kasih ya, kamu telah menolongnya," ucap dokter itu sembari menghela nafas lega, karena pasiennya tidak apa-apa, "kamu menemukannya di taman kan?"
"Dari mana dokter tahu?" tanyaku sedikit bingung.
"Dia pasien di rumah sakit ini. Dia sering sekali pergi diam-diam ke taman itu. Entah apa yang dia lakukan. Dia hanya mau sendirian saja di sana."
"Memangnya dia sakit apa, Dok?" tanyaku penasaran.
"Dia mempunyai penyakit kanker hati stadium akhir."
Aku terkesiap mendengar perkataan dokter. Laki-laki itu mempunyai penyakit mematikan. Pasti ini berat sekali untuknya. Kalau aku yang mengalami itu, aku pasti tidak kuat menghadapinya.
***
Aku berdiri menatap laki-laki yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit itu. Wajahnya pucat sekali. Aku tak tega melihatnya.
"Terima kasih ya, tadi kamu telah menolongku," ucap laki-laki itu sembari tersenyum manis.
Aku terpaku melihatnya tersenyum. Seperti tak ada beban sedikit pun dalam dirinya. Dia masih bisa tersenyum, padahal dia tahu dia mempunyai penyakit mematikan.
"Kok diam, sih?" tanyanya membuyarkan lamunanku, "oh ya, kenalin namaku Adit. Namamu siapa?"
"...Namaku Zahra," jawabku setelah beberapa saat hanya diam.
"Semoga kita bisa berteman baik," ucap Adit sembari tersenyum lagi.
Aku masih menatapnya tak percaya. Aku benar-benar tak habis pikir dengannya. Berulang kali dia tersenyum dengan wajah bahagia. Apa dia bahagia dengan penyakitnya? Aku jadi penasaran, kenapa dia masih bisa tersenyum dan bahagia? Aku beranikan diri untuk bertanya kepadanya.
"Kenapa... kamu masih bisa tersenyum, padahal..." tanyaku agak ragu, tapi langsung dipotong olehnya.
"Padahal aku mempunyai penyakit mematikan. Itu kan, maksudmu?" potong Adit. Kemudian dia menghela nafasnya, "memangnya kenapa kalau kita tersenyum? Tidak ada salahnya, kan? Malah dengan tersenyum bisa menutupi kesedihan kita."
"Maksudmu?" Aku masih tak mengerti dengan perkataannya.
"Dengan tersenyum dapat menutupi kesedihan kita. Meski sesedih atau sesulit apa pun masalah yang dihadapi. Ya, kita anggap saja masalah yang dihadapi itu merupakan kebahagiaan. Jangan menganggapnya sebagai penderitaan. Kalau menganggapnya sebagai penderitaan, kita hanya akan merasa menderita. Merasa tak bahagia dan tak bersyukur. Dari pada seperti itu, lebih baik kita menganggapnya sebagai kebahagiaan untuk diri kita saja, kita akan ikut merasa bahagia," ucapnya sembari tersenyum 'lagi'.
Aku diam mendengar perkataannya. Dia benar, dengan menganggap masalah itu sebagai kebahagiaan dapat membuat kita ikut merasa bahagia. Daripada hanya mengeluh saja. Seperti yang selama ini aku lakukan.
"Kamu bisa tersenyum karena menganggapnya sebagai kebahagiaan?" tanyaku lagi untuk meyakinkan diriku.
"Ya, benar. Kebahagiaan merupakan hal yang semua orang inginkan. Semua orang ingin bahagia. Tak ada satu pun yang tidak menginginkannya. Hanya saja berbeda-beda pemikiran tentang bahagia bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai kebahagiaan atas hidupnya yang menyenangkan, dan ada pula yang menganggap sebagai kebahagiaan atas hidupnya yang tak begitu menyenangkan, tapi dia tetap bisa merasa senang dan bahagia atas hidupnya."
Hatiku terenyuh. Selama ini aku memandang bahagia hanya dari satu sudut pandang, yaitu kebahagiaan atas hidup yang menyenangkan. Ternyata aku salah. Ada sudut pandang lain dari makna bahagia, yaitu tetap merasa bahagia meskipun hidup ini tak begitu menyenangkan. Selama ini aku malah selalu mengeluh dan merasa tak bahagia karena cobaan dan masalah yang datang bertubi-tubi dalam hidupku. Seharusnya aku bisa menghadapinya dengan tabah dan sabar. Seharusnya aku menganggapnya sebagai kebahagiaan dalam hidupku.
Kini aku sadar tentang makna bahagia yang sesungguhnya. Meski banyak cobaan dan masalah dalam hidup ini, jika aku merasa bahagia, aku akan bahagia. Dan justru sebaliknya, jika aku merasa tak bahagia, aku pasti akan tak bahagia. Laki-laki yang baru saja aku kenal itu telah menyadarkanku. Dia memberikan kekuatan baru untukku. Agar aku menghargai hidup ini, meski sesulit apa pun itu. Agar aku dapat merasa bahagia atas kehidupan ini.
Hidup ini sudah sepantasnya disyukuri dan dimaknai. Jangan hanya mengeluh dan tak mau berusaha untuk merubahnya menjadi lebih baik lagi. Hargai hidup ini, meski sesulit apa pun masalah yang dihadapi. Hadapi dengan senyuman. Hadapi dengan tabah dan sabar. Kebahagiaan pasti akan selalu ada di sisi.


oleh: Delia, divisi editor

0 comments:

Poskan Komentar