Minggu, 06 November 2011

Makna Hari Raya Idul Adha


foto: google.com
Di Indonesia, sebagian besar masyarakat muslim berpendapat bahwa Hari Raya Idul Adha terasa tak semeriah Hari Raya Idul Fitri, terlebih bagi mereka yang tidak berkurban. Hal tersebut justru bertolak belakang dengan kondisi yang dialami masyarakat muslim di Timur Tengah. Entah apa penyebab terjadinya perbedaan ini. Namun, satu hal yang perlu dipahami yakni bergantung dari bagaimana masyarakat dapat memahami makna (pelajaran) dari tiap peristiwa. Begitu pula dengan Hari Raya Idul Adha, keistimewaannya akan muncul apabila kita mampu memaknainya secara tepat.

Bicara mengenai makna, sedikitnya ada dua makna yang bisa kita dapatkan di Hari Raya Idul Adha. Makna sebagai sebuah pembelajaran akan pentingnya sebuah momentum. Yang pertama, memahami kalau Hari Raya Idul Adha merupakan syi’ar sebagaimana Rasulullah pernah mengatakan, “Hiasilah hari-hari raya kamu dengan takbir,” (H.R. Thabrani). Salah satu yang perlu kita ingat berkaitan dengan hadis tersebut, DR. Yusuf Qardhawi mengatakan, dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer jiid I, kalau pengucapan takbir ini tak dibatasi oleh ruang, tak terbatas hanya pada sekumpulan orang yang berada di masjid, tapi juga berlaku bagi orang yang sedang berjalan, di pasar, dan lainnya. Selain itu, beliau meneruskan kalau takbir ini dimulai sejak selesai shalat shubuh pada hari arafah hingga 23 kali shalat fardhu, yakni pada akhir hari tasyrik, 13 Dzulhijjah. Pengamalan sunnah ini yang kerap tak ditemukan lagi di tengah masyarakat kita. Sebuah penghiasan hari raya dengan takbir semakin menghilang. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus mempertahankan dengan cara tepat yang cerdas.

Kedua, Hari Raya Idul Adha ini kerap kali dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Quran. Penghayatan tentang makna yang terkandung dalam peristiwa tersebut sangatlah bergantung pada masing-masing diri kita. Akan tetapi, salah satu hal umum yang bisa kita rasakan, mengenai hal tersebut pernah disampaikan oleh salah satu ulama Indonesia. Beliau mengatakan bahwa apa yang dikurbankan tidaklah boleh manusia melainkan sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan norma apapun. Dalam hal ini, Ali Syariati juga pernah mengungkapkan bahwa sesungguhnya Ismail hanya simbol dari setiap sesuatu yang melemahkan imanmu, setiap sesuatu yang menghalangi “perjalananmu”, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentinganmu sendiri, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa engkau untuk “melarikan diri”, setiap sesuatu yang membutakan matamu dan telingamu. Ismail hanya simbol dari seorang manusia, benda, pangkat, realita, kedudukan dan “ kelemahan dirimu” yang akhirnya sifat kelemahan tersebutlah yang harus dikurbankan, disembelih, dan ditiadakan dalam diri kita terlebih dalam diri setiap umat muslim di Indonesia. Wallahu a’lam

Allahuakbar… Allahuakbar…. Lailahallallahuwallahuakbar… Allahuakbar.. Walillahilhamd.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

oleh: Dwi Novitasari

0 comments:

Poskan Komentar