Minggu, 16 Oktober 2011

Fenomena Tradisi "SKS"

ilustrasi: www.google.com
Mendadak sibuk di minggu-minggu ini? Mendadak mendapat banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan? Hal itu sering dialami sebagian besar mahasiswa saat ini. Siapa pun yang sudah merasakan jadi mahasiswa pasti sangat pernah mengalami hal serupa. Sebenarnya apa yang membuat kita merasakan kesibukan yang luar biasa secara tiba-tiba, sehingga terkadang membuat kita stres mendadak?

Hal ini sebenarnya wajar dialami pada sejumlah mahasiswa yang notabene masih labil. Bapak Junaidi Gafar,  dalam kuliahnya mengemukakan, "Usia mahasiswa 20-24 tahun adalah usia yang masih belum bisa memegang teguh konsistensi dan belum benar-benar bisa bertanggung jawab. Dalam usia ini, seseorang masih memikirkan kesenangan pribadi dan kenyamanan hidupnya sendiri. Mereka masih merasa sangat menikmati hidup. Inilah karakter mahasiswa sebenarnya."ujar dosen yang akrab dipanggil Pak Jun itu. Tidak beda jauh dalam menghadapi urusan kuliah. Banyak mahasiswa cenderung mengutamakan kepentingan pribadi di luar kuliah mereka, seperti bisnis yang mulai mereka bangun, uang, pacar, kegiatan BEM, perayaan, pesta, dan sejumlah acara lainnya yang sering mereka jadikan alasan.

Alasan-alasan tersebut yang membuat mereka seringkali memakai Sistem Kebut Semalam (SKS). Bagi mahasiswa, tidur larut malam, atau pun melakukan kegiatan yang dianggap paling tidak sehat, yaitu begadang, mendadak jadi teman akrab para mahasiswa ini. Menurut penilitian, masyarakat yang mengecap pendidikan perguruan tinggi cenderung mempunyai waktu tidur kurang dari 8 jam per hari. Mereka cenderung menghabiskan waktu malam mereka untuk mengerjakan tugas minggu lalu. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini tergantung dari cara mengelola diri dari masing-masing individu. Namun, secara umum mahasiswa lebih memilih mengerjakan tugasnya saat menjelang deadline pengumpulan tugas. Padahal, hal tersebut dapat memicu stress di kalangan remaja. Selain kurangnya waktu tidur, perasaan tertekan karena waktu yang sempit menghantarkan mereka pada kondisi stress.

Namun, sebagian besar dari mahasiswa berpendapat bahwa, mereka menemukan sebuah kekuatan yang muncul dari dalam diri saat mereka melakukan ritual SKS. "Kalau lagi 'kepepet', justru ide lebih cepat muncul dari dalam otak."ujar Faisal, salah satu mahasiswa jurusan disain grafis PNJ. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Baba, mahasiswa Penerbitan PNJ, "Kekuatan dari rasa terpaksa itu besar. Kalau 'mepet', pasti bisa ngerjain jadinya. Yah, tapi diluar dari itu, memang banyak (mahasiswa) yang malas juga."tutupnya.

Menurut penelitian, kekuatan yang muncul saat kita tertekan lebih cepat menghasilkan ide yang maksimal daripada saat kita dalam keadaan biasa. Saat adrenalin terpacu, otak dipaksa untuk menyelesaikan masalah dan keluar dari keadaan tersebut, untuk mencapai zona aman secepatnya. Tak jarang hal yang tak biasa dilakukan, akan sangat mungkin bisa kita lakukan dalam keadaan tertekan. Biasanya mahasiswa menyebutnya dengan istilah "The Power of Kepepet". Selain karena urusan di luar kuliah, alasan 'kepepet' ini juga digunakan untuk melakukan ritual SKS. Sebagian dari mereka mengakui, hal yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas adalah mood yang baik. Seperti yang diungkapkan Ida, seorang mahasiswi Penerbitan PNJ, "Biasanya bisa juga karena belum ada ide. Makanya seringkali mencari mood yang tepat untuk mengerjakan."ungkap Ida. Ia merasa dengan mood yang baik, ide akan mengalir deras dengan sendirinya.

Hal-hal di atas sebenarnya bisa diminimalisir dengan cara belajar mengelola diri sendiri pada masing-masing pribadi mahasiswa. Di masa itu, mahasiswa sering dihadapkan dengan berbagai pilihan untuk belajar mengambil keputusan dan menentukan prioritas. Namun, seringkali mahasiswa yang tidak bisa mengelola dirinya sendiri ini terjebak dalam keputusan yang salah. Hal ini wajar, mengingat usia mereka yang beranjak dari remaja ke dewasa. Hal itu yang sering membuat mereka mengalami shok dan rasa bingung.

Namun, terlepas dari semua hal itu, mahasiswa harus mampu belajar mengelola diri mereka dan belajar untuk menentukan prioritas, serta mengambil keputusan. Agar resiko terjebak dalam keputusan yang salah dan rasa tertekan terhadap suatu keadaan dapat diminimalisir. 


Original by: Aulia Trisna

0 comments:

Poskan Komentar